Abuot Me

Foto Saya

Nama: Roby Alexsander Lelangulu
yang nampak dalam diri ku adalah sesuatu yang tidak nampak bagi orang lain... selalu ingin menjadi yang unik tetapi bukan terdepan.... rasa ingin tahu tentang teknologi yang tinggi terutama dalam bidang windows... apapun itu, pekerjaan yang ku sukai bukan karena upahnya yang besar tetapi kesenangan dan pengetauan yang terdapat pada pekerjaan itu...
Ahli Psikologi ( Sigmund Freud, James Lounge, Arthur Combs, Albert Bandura , Wilhelm Wundt, Burrhus Frederic Skinner, Tipologi Spranger, Carl Rogers, and Henry A. Murray )


Sigmund Freud

Sigmund Freud yang terkenal dengan Teori Psikoanalisis dilahirkan di Morovia, pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Gerald Corey dalam “Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy” menjelaskan bahwa Sigmund Freud adalah anak sulung dari keluarga Viena yang terdiri dari tiga laki-laki dan lima orang wanita. Dalam hidupnya ia ditempa oleh seorang ayah yang sangat otoriter dan dengan uang yang sangat terbatas, sehingga keluarganya terpaksa hidup berdesakan di sebuah aparterment yang sempit, namun demikian orang tuanya tetap berusaha untuk memberikan motivasi terhadap kapasitas intelektual yang tampak jelas dimiliki oleh anak-anaknya.

Sebahagian besar hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengembangkan tentang teori psikoanalisisnya. Uniknya, saat ia sedang mengalami problema emosional yang sangat berat adalah saat kreativitasnya muncul. Pada umur paruh pertama empat puluhan ia banyak mengalami bermacam psikomatik, juga rasa nyeri akan datangnya maut dan fobi-fobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.

Sigmund Freud dikenal juga sebagai tokoh yang kreatif dan produktif. Ia sering menghabiskan waktunya 18 jam sehari untuk menulis karya-karyanya, dan karya tersebut terkumpul sampai 24 jilid. Bahkan ia tetap produktif pada usia senja. Karena karya dan produktifitasnya itu, Freud dikenal bukan hanya sebagai pencetus psikoanalisis yang mencuatkan namanya sebagai intelektual, tapi juga telah meletakkan teknik baru untuk bisa memahami perilaku manusia. Hasil usahanya itu adalah sebuah teori kepribadian dan psikoterapi yang sangat komprehenshif dibandingkan dengan teori serupa yang pernah dikembangkan.

Psikoanalisa dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner di bidang psikologi yang dimulai dari satu metode penyembuhan penderita sakit mental, hingga menjelma menjadi sebuah konsepsi baru tentang manusia. Hipotesis pokok psikoanalisa menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebahagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar, sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat peta ketidaksadaran manusia.

Lima karya Freud yang sangat terkenal dari beberapa karyanya adalah: (1) The Interpretation of dreams (1900), (2) The Psichopathology of Everiday Life (1901), (3) General Introductory Lectures on Psichoanalysis (1917), (4) New Introductory Lectures on Psichoanalysis (1933) dan (5) An Outline of Psichoanalysis (1940).

Dalam dunia pendidikan pada masa itu, Sigmund Freud belum seberapa populer. Menurut A. Supratika, nama Freud baru dikenal pertama kalinya dalam kalangan psikologi akademis pada tahun 1909, ketika ia diundang oleh G. Stanley Hall, seorang sarjana psikologi Amerika, untuk memberikan serangkaian kuliah di universitas Clark di Worcester, Massachusetts. Pengaruh Freud di lingkungan psikologi baru terasa sekitar tahun 1930-an. Akan tetapi Asosiasi Psikoanalisis Internasional sudah terbentuk tahun 1910, begitu juga dengan lembaga pendidikan psikoanalisis sudah didirikan di banyak negara.

Persepsi tentang sifat manusia

Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.

Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah.

Struktur Kepribadian

Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.

Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.

Menurut Calvil S. Hall dan Lindzey, dalam psikodinamika masing-masing bagian dari kepribadian total mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dinamika dan mekanisme tersendiri, namun semuanya berinteraksi begitu erat satu sama lainnya, sehingga tidak mungkin dipisahkan. Id bagian tertua dari aparatur mental dan merupakan komponen terpenting sepanjang hidup. Id dan instink-instink lainnya mencerminkan tujuan sejati kehidupan organisme individual. Jadi id merupakan pihak dominan dalam kemitraan struktur kepribadian manusia.

Menurut S. Hall dan Lindzey, dalam Sumadi Suryabarata, cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah: (1) apabila rasa id-nya menguasai sebahagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengubar impuls-impuls primitifnya, (2) apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irrasional.

Jadi untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah: Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer.

Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super- ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego. Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.

Kesadaran dan ketidaksadaran

Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya. Menurut Gerald Corey, bukti klinis untuk membenarkan alam ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti: (1) mimpi; hal ini merupakan pantulan dari kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri, (2) salah ucap sesuatu; misalnya nama yang sudah dikenal sebelumnya, (3) sugesti pasca hipnotik, (4) materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas, dan (5) materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi simbolik dari simptom psikotik.

Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.

Kecemasan

Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang datang.

Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum, dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.

Mekanisme pertahanan ego

Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah: (1) represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, (2) memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, (3) pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, (4) proyeksi; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar, (5) penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”, (6) rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur, (7) sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi, (8) regresi; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami, (9) introjeksi; yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain, (10) identifikasi, (11) konpensasi, dan (12) ritual dan penghapusan.

Perkembangan kepribadian
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.

Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (dalam A.Supratika), yaitu: (1) tahap oral, (2) tahap anal: 1-3 tahun, (3) tahap palus: 3-6 tahun, (4) tahap laten: 6-12 tahun, (5) tahap genetal: 12-18 tahun, (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.

Aplikasi Teori Sigmund Freud Dalam Bimbingan
Apabila menyimak konsep kunci dari teori kepribadian Sigmund Freud, maka ada beberapa teorinya yang dapat aplikasikan dalam bimbingan, yaitu: Pertama, konsep kunci bahwa ”manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan”. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Mortensen (dalam Yusuf Gunawan) membagi fungsi bimbingan kepada tiga yaitu: (1) memahami individu (understanding-individu), (2) preventif dan pengembangan individual, dan (3) membantu individu untuk menyempurnakannya.

Memahami individu. Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. Karena itu bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara keseluruhan. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya. Sebaliknya bimbingan tidak dapat berfungsi efektif jika konselor kurang pengetahuan dan pengertian mengenai motif dan tingkah laku konseli, sehingga usaha preventif dan treatment tidak dapat berhasil baik.

Preventif dan pengembangan individual. Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventif berusaha mencegah kemorosotan perkembangan anak dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangan anak melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal.

Membantu individu untuk menyempurnakan. Setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi lingkungannya. Pertolongan setiap individu tidak sama. Perbedaan umumnya lebih pada tingkatannya dari pada macamnya, jadi sangat tergantung apa yang menjadi kebutuhan dan potensi yang ia meliki. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

Jadi dalam konsep yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa teori Freud dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan proses bantuan kepada konseli, sehingga metode dan materi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan individu.

Kedua, konsep kunci tentang “kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial dalam masyarakatnya.

Dengan demikian kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuannya dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena menurut Freud setiap manusia akan selalu hidup dalam kecemasan, kecemasan karena manusia akan punah, kecemasan karena tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan banyak lagi kecemasan-kecemasan lain yang dialami manusia, jadi untuk itu maka bimbingan ini dapat merupakan wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.

Ketiga, konsep psikolanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pemebinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.

Dalam hal ini sebuah hadis Nabi menyatakan bahwa “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang ikut mewarnainya sampai dewasa.” Selain itu seorang penyair menyatakan bahwa “Tumbuhnya generasi muda kita seperti yang dibiasakan oleh ayah-ibunya”.

Hadis dan syair tersebut di atas sejalan dengan konsep Freud tentang kepribadian manusia yang disimpulkannya sangat tergantung pada apa yang diterimanya ketika ia masih kecil. Namun tentu saja terdapat sisi-sisi yang tidak begitu dapat diaplikasikan, karena pada hakikatnya manusia itu juga bersifat baharu.

Keempat, teori Freud tentang “tahapan perkembangan kepribadian individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.

Kelima, konsep Freud tentang “ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.




Tipologi Spranger


1. Dua macam rohk (Geist)
Pertama-tama spranger membedakan adanya dua macam rokh (Geist), yaitu:
a) Rokh subjektif atau rokh individual, yaitu rokh yang terdapat pada manusia masing-masing (individu)
b) Rokh objektif atau rokh supra individual, yaitu rokh seluruh umat manusia, yang dalam keadaan konkritnya merupakan kebudayaan yang telah terjelma selama berabad-abad.
2. Hubungan antara rokh subjektif dan rokh abjektif
Rokh subjektif dan objektif itu berhubungan secara timbal balik. Rokh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan rokh objektif, artinya rokh subjektif tersebut berbentuk dan berkembang dengan memakai rokh objektif sebagai norma.
3. Lapangan-lapangan hidup
Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun menurut sistem atau struktur tertentu.
a) Lapangan pengetahuan (ilmu, teori)
b) Lapangan ekonomi
c) Lapangan kesenian
d) Lapangan keagamaan
e) Lapangan kemasyarakatan
f) Lapanagan politik





Teori Carl Rogers

1. Pendahuluan

Tokoh psikologi humanistik selain Abraham Maslow, adalah Carl Rogers. Rogers (1902-1987) menjadi terkenal berkat metoda terapi yang dikembangkannya, yaitu terapi yang berpusat pada klien (client-centered therapy). Tekniknya tersebar luas di kalangan pendidikan, bimbingan, dan pekerja sosial. Rogers sangat kuat memegang asumsinya bahwa manusia itu bebas, rasional, utuh, mudah berubah, subjektif, proaktif, heterostatis, dan sukar dipahami (Alwisol, 2005 : 333).

2. Pokok-pokok Teori Carl Rogers

a. Struktur kepribadian

Rogers lebih mementingkan dinamika dari pada struktur kepribadian. Namun demikian ada tiga komponen yang dibahas bila bicara tentang struktur kepribadian menurut Rogers, yaitu : organisme, medan fenomena, dan self.

1) Organime, mencakup :

a) Makhluk hidup

Organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadar setiap saat.

b) Realitas subjektif

Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan persepsi yang sifatnya subjektif, bukan benar-salah.

c) Holisme

Organisme adalah kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi atau bertujuan, yakni tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.

2) Medan fenomena

Rogers mengartikan medan fenomena sebagai keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Medan fenomena merupakan seluruh pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya.

3) Self

Self merupakan konsep pokok dari teori kepribadian Rogers, yang intinya adalah :

a) terbentuk melalui medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu;.

b) bersifat integral dan konsisten;

c) menganggap pengalaman yang tak sesuai dengan struktur self sebagai ancaman;

d) dapat berubah karena kematangan dan belajar.

b. Dinamika kepribadian

Menurut Rogers, organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang maka ia makin berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Rogers menyatakan bahwa pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan (Hall dan Lindzey, 1995 :136-137).

Rogers menegaskan bahwa secara alami kecenderungan aktualisasi akan menunjukkan diri melalui rentangan luas tingkah laku, yaitu :

1) Tingkah laku yang berakar pada proses fisiologis, termasuk kebutuhan dasar (makana, minuman, dan udara), kebutuhan mengembangkan dan memerinci fungsi tubuh serta generasi.

2) Tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi psikologis untuk menjadi diri sendiri.

3) Tingkah laku yang tidak meredakan ketegangan tetapi justru meningkatkan tegangan, yaitu tingkah laku yang motivasinya untuk berkembang dan menjadi lebih baik.

c. Perkembangan kepribadian

Rogers tidak membahas teori pertumbuhan dan perkembangan, namun dia yakin adanya kekuatan tumbuh pada semua orang yang secara alami mendorong proses organisme menjadi semakin kompleks, otonom, sosial, sdan secara keseluruhan semakin aktualisasi diri. Rogers menyatakan bahwa self berkembang secar utuh-keseluruhan, menyentuh semua bagian-bagian. Berkembangnya self diikuti oleh kebutuhan penerimaan positif, dan penyaringan tingkah laku yang disadari agar tetap sesuai dengan struktur self sehingga dirinya berkembang menjadi pribadi yang berfungsi utuh.

Pribadi yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai kapasitas dan bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya. Rogers menggambarkan 5 ciri kepribadian yang berfungsi sepenuhnya sebagai berikut :

1) terbuka untuk mengalami (openess to experience);

2) hidup menjadi (existential living);

3) keyakinan organismik (organismic trusting);

4) pengalaman kebebasan (experiental freedom);

5) kreativitas (creativity)






Teori Henry A. Murray


Dalam kerangka kerja yang ia sebut sebagai sistem personologi, Henry Murray telah merancang suatu pendekatan terhadap kepribadian secara eclectic maupun orisinil. Di dalamnya terkandung bagian dan cerminan modifikasi dari teori Freud tetapi juga konsep dan metode orisinil, yang digambarkan bersama secara efektif sehingga dapat menjadikan stimuli bagi yang lainnya dalam bidang kepribadian.
Rumusannya merupakan bagian dari dan sekaligus merupakan pengembangan pengalaman-pengalamannya sendiri dalam biokimia dan pengobatan, dalam penelitian dan pelatihan psikoanalisis, dan dalam studi mendalamnya tentang kesusastraan, khususnya terhadap tulisan Herman Melville. Sebagai hasilnya, teorinya termasuk dalam kenirsadaran dan juga kesadaran, kisah masa lalu maupun masa depan, dan pengaruh fisiologis maupun sosiologis.

Sistem tersebut menekankan pada fungsi fisiologis yang mengatur dan mengarahkan kepribadian. Sebagai pusat kepribadian, otak mempunyai fungsi untuk membawa kesatuan dan keterpaduan terhadap tingkah laku. Perhatian Murray terhadap fisiologi juga terbukti lewat minatnya (berbagi bersama Freud, iantaranya) terhadap peredaan tegangan sebagai kekuatan terbesar dalam tingkah laku. Dalam tingkatan biologis maupun fisiologis, keduanya menyuarakan konsep peredaan tegangan sebagai hukum utama dari fungsi manusia, meskipun ia memperluas konsep dasar dan gagasan yang banyak digunakan ini.

Pengaruh psikoanalisis Freudian dapat terlihat melalui sistem Murray di dalam pentingnya tenaga kenirsadaran, tingkah laku orang dewasa yang merupakan efek dari pengalaman masa kecilnya, dan keterpaduan idenya tentang id, ego, dan superego. Bagaimanapun juga, ketika jejak Freud telah jelas sekalipun, sama jelasnya bagi Murray yang memberikan interpretasi unik terhadap fenomena fisiologis ini. Malahan, perbedaannya dengan psikoanalisis klasik sangat besar sehingga sistemnya harus diklasifikasikan dengan neo-Freuian daripada dengan Freud.

Barangkali kedua hal yang dapat dikenali dari sistemnya ini merupakan pendekatan yang sangat rumit terhadap kebutuhan manusia dan sumber data dalam membangun teorinya. Keputusannya yang berhati-hati dalam membuat daftar kebutuhan manusia, yang spesifik dan terdiferensiasi, telah dipakai dalam skala besar pada penelitian, dalam pengukuran atau penilaian kepribadian, dan dalam tindakan klinis. Sebagai sumber untuk datanya, Murray tidak seperti teoritis-teoritis yang telah dibahas sejauh ini, tidak banyak mempelajari pasien di bawah pengobatan psikoterapi yang dianggap sebagai individu normal (mahasiswa di Harvard). Juga, kebanyakan datanya diperoleh dari apa yang bisa kita simpulkan sebagai suatu prosedur pembuktian dalam praktik laboratorium daripada dari kasus-kasus orang-orang yang menderita (atau menikmati) neurosis.

Dikarenakan hubungannya yang panjang dengan universitas ternama yang besar (daripada klinik yang relatif terisolasi atau praktik pribadi), dan dikarenakan beberapa ketertarikan kualitas manusia dan dari sistemnya, Murray mengumpulkan dan melatih kelompok besar psikolog, kebanyakan dari mereka telah mendapat pengakuan bagi keyakinan mereka sendiri dan yang telah membawa setidaknya sedikit ajarannya. Perluasan dan pengikutsertaan dalam pekerjaannya merupakan suatu kepuasan yang sering disangkal para teoris lain.


Kehidupan Murray (1893 - 1988 )

Tidaksatupun, kemiskinan maupun orangtua yang neurotik, menandai masa kanak-kanak Henry Murray. Bagaimanapun juga, tetap ada bagian dari, berdasarkan Adlerian sebagai pengganti dari cacat jasmani, suatu kepekaan yang supernormal terhadap penderitaan orang lain, dan suatu petunjuk tentang penolakan dari ibunya untuk memastikan bahwa masa kanak-kanaknya benar-benar tidak menjemukan.

Meskipun banyak aspek yang menarik dari masa kanak-kanaknya dan kepribadiannya, sulit untuk menghubungkan teori Murray dengan dirinya sendiri. Entah tidak ada hubungan dalam kasus ini, atau Murray belum menceritakan secara cukup tentang dirinya sendiri untuk mengizinkan kita memperkirakan hubungan tersebut. Seperti yang telah disebutkan, Murray mendasarkan teorinya pada penelitian laboratorium dan bukan pada kasus histori pasien. Jadi, sangat mungkin bagi ia untuk melakukan pendekatan terhadap studi kepribadian sebagai proyek ilmiah, dibandingkan dengan usaha untuk mengerti masalah-masalah emosional atau kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri. Ketika Murray menjalani psikoanalisis sebagai orang dewasa, sebagai bagian dari latihannya, analisnya tidak bisa menemukan kesalahan apapun pada dirinya.

Dalam tingkatan apapun, Murray bisa dipastikan lahir dalam keadaan berlimpah kekayaan. Ia menghabiskan masa kecilnya di rumah di kota New York yang sekarang menjadi bangunan Rockefeller Center. Musim kemaraunya dihabiskan di pantai Long Island. Ketika masih kecil ia ikut serta orang tuanya menjalani 4 kali perjalanan panjang ke Eropa.

Bagi Adlerian, ingatan pertama Murray adalah sesuatu yang menarik. Ia menyebutnya ”the marrow-of-my-being memory”. Kira-kira di usianya yang keempat, ia memperhatikan suatu lukisan ratu bermuka sedih duduk di sebelah anak lelakinya yang sama bermuka sedihnya. Ibunya mengatakan kepadanya bahwa “kemungkinan menghadapi kematianlah yang membuat mereka terlihat sedih”. (Ini merupakan jenis gambar yang sama suramnya dengan gambar yang kemuian dipakai dalam Thematic Apperception Test-nya yang terkenal).

Murray menafsirkan ingatan tersebut sebagai pemutusan ikatan emosional antara dirinya dengan ibunya, karena ibunya berhenti menyusui ketika ia masih berusia 2 bulan, dan karena ibunya lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakak perempuan dan kakak lelakinya. Jadi, Murray ditinggalkan dengan apa yang ia sebut sebagai kasih sayang ibu yang “terbatas, porsi terbaik ketiga”.
Juga pada masa mudanya, ia menjadi sangat peka terhadap masalah-masalah emosional dan penderitaan orang lain, dikarenakan ia mendapati kedua tantenya neurotik, yang satu adalah seorang yang histeris sedangkan yang lainnya menderita depresi berat.

Sebagai anak, Murray menderita internal strabismus (mata juling). Pada usianya yang ke-9, di ruang makan rumahnya, ia dioperasi untuk memperbaiki kondisi tersebut. Sebagai hasilnya, ia tidak lagi menderita internal strabismus; tetapi menjadi eksternal strabismus, berterima kasih pada kesalahan sang ahli bedah, dan Murray ditinggalkan tanpa mempunyai penglihatan stereokopis. Setelah operasinya, tidak perduli betapa kerasnya ia berusaha, ia tidak pernah bisa bermain baik dalam permainan tenis, kasti, atau permainan sejenisnya, dikarenakan ia tidak bisa memfokuskan kedua matanya pada bola. Itu adalah saat dimana ketika ia mulai menjadi gagap. Ia tetap tidak menyadari akan cacat penglihatannya sampai ketika di sekolah kedokteran, ketika seorang dokter menanyakan padanya apakah ia mempunyai masalah dalam bermain ketika ia masih kecil.

Kedua kecacatannya – gagap dan ketidakmampuannya dalam bidang olahraga – menciptakan suatu kebutuhan untuk mengkompensasinya. Ketika ia bermain sepakbola, ia hanya bisa menjadi pemain gelandang belakang (dan ia tidak pernah gagap ketika memberikan kode); ia juga mengambil kelas tinju di sekolahnya.

Setelah lulus dari sekolah Groton, Murray masuk ke Harvard. Ia mengambil jurusan sejarah dan mendapat nilai yang sedang-sedang saja dikarenakan ia meluangkan kebanyakan waktunya pada bidang atletik. Karirnya kemudian diwarnai oleh perjalanan yang berliku-liku oleh studi tentang kepribadian. Pada tahun 1919, ia lulus dari Columbia University Medical School dengan nilai tertinggi di kelasnya. Sejalan dengan itu, ia memperoleh gelar M.A, di bidang biologi dari Columbia, dan kemudian mengajar fisiologi untuk waktu jangka pendek di Harvard.

Setelah menjalani 2 tahun tugas sebagai seorang dokter yang dilatih untuk ilmu bedah di rumah sakit New York, ia kemudian memimpin penelitian biokimia di bidang embriologi di Rockefeller Institute selama 2 tahun. Kemudian ia melanjutkan studinya di Inggris dan di tahun 1927 ia mendapat gelar Ph.d di bidang biokimia dari Cambridge University.

Bagaimana, kita dapat membayangkannya secara jelas, perjalanan panjang dan rumit ini membawa pada ilmu psikologi, terutama ketika ia tidak menyukai beberapa pelajaran psikologi yang diambilnya di bangku kuliah dan sekolah kedokteran? Malahan, pada pertemuan kedua dalam pelajaran psikologi pertamanya, ia sudah memulai “mencari jalan keluar terdekat”.

Kepekaan Murray terhadap penderitaan orang lain telah disebutkan sebelumnya. Hal ini dikuatkan, selama tugasnya sebagai dokter ahli bedah, ketika ia memulai penelitian untuk faktor psikogenik pada latar belakang pasiennya. Kemudian, pada tahun 1923, ia banyak terpengaruh dari buku Jung, Psychological Types. Pada tahun 1927, ia menghabiskan waktunya selama 3 minggu di rumah Jung di Switzerland. Mereka menghabiskan waktunya bersama-sama dan Murray menulis, “kesempatan besar dalam dunia yang mengagumkan telah terbuka lebar … Saya telah mengalami kenirsadaran tersebut”.
Setelah beberapa tahun di Rockefeller Institute, Murray, pada tahun 1927, ditawari penawaran oleh seorang psikolog di Morton Prince menjadi seorang asisten dalam mendirikan klinik psikologi Harvard, yang sengaja didirikan untuk mempelajari kepribadian. Sebagai bagian dari pelatihannya, Murray menjalani psikoanalisis, dan dilaporkan bahwa seorang analisnya menjadi bosan karena sifat phlegmatic bawaannya dari masa kecilnya dan kekurangannya yang kompleks.

Di akhir tahun 1930an, Murray mengembangkan tes populer Thematic Apperception Test, salah satu yang digunakan luas bagi pengukuran proyektif dari kepribadian dalam lingkungan penelitian maupun pelatihan. Selama perang dunia ke-2, ia bergabung dengan angkatan darat dan menjadi Director of the Assessment for the Office of the Strategic Services, menyaring kandidat-kandidat untuk melakukan tugas yang berbahaya bagi organisasi “cloak-and-dagger”. Sebagai tambahan, kira-kira selama 25 tahun Murray membedah isi buku dari pengarang Herman Melville, dan pada tahun 1951 ia mempublikasikan hasil analisisnya tentang makna psikologikal dari novel Moby Dick.
Murray tinggal di Harvard sampai ia pensiun pada tahun 1962, memimpin penelitian, merumuskan teori kepribadian, dan melatih sejumlah psikolog, beberapa dari mereka menerima penghargaan dalam mempelajari kepribadian. Sangat dihargai dan dikenal dalam psikologi sekarang ini, Murray telah dianugerahi Gold Medal Award oleh American Psychological Foundation dan Distinguished Scientific Contribution Award oleh American Psychological Association.

Sifat Dasar Kepribadian

Murray sangat berhati-hati menunjuk teorinya tentang personologi (istilahnya untuk studi kepribadian) adalah bersifat sementara (tentatif), yang tidak diharapkan menjadi akhir, dan mencakup-semua rumusan. Personologi, menurut pendapatnya, sangat kompleks dan tergolong baru untuk dipahami melalui tingkat pemahaman kita. Agaknya, ia melihat pekerjaannya secara teoritis dan empiris sebagai “persiapan bagi peningkatan sistem yang komprehensif”. Namun demikian, terdapat beberapa prinsip dasar yang rupanya ia lihat sebagai bahan dasar yang kuat bagi peningkatan sistemnya.
Prinsip utama dalam semua pekerjaannya adalah komitmen yang pasti bagi gagasan bahwa proses psikologis bergantung pada proses fisiologis. Komentarnya yang tajam “tidak punya otak, tidak punya kepribadian”, menyimpulkan pandangan ini secara baik. Kepribadian berakar dalam otak, yang adalah, fisiologi otak individu mengendalikan dan memerintah kepribadian. Sebagai contoh sederhana, struk atau beberapa jenis obat dapat mengubah fungsi otak, dan juga kepribadian.

Semua hal yang mempengaruhi kepribadian berada dalam otak – pusat perasaan, ingatan sadar dan nirsadar, keyakinan, sikap, rasa takut, dan nilai-nilai. Pusat, dengan demikian, dari setiap aspek kepribadian adalah otak. Sangat penting bagi Murray untuk mempertimbangkan proses pengontrolan otak ini sehingga ia menyebutnya sebagai regnant atau proses pengaturan.

Prinsip dasar kedua dari sistem Murray – ia sebut sebagai ”prinsip mencakup-semua” — melibatkan kepentingan untuk merubah tingkatan ”need-induced tension” bagi organisme. Teoritis lain, seperti yan telah kita lihat, juga menyuarakan gagasan tentang peredaan tegangan, tetapi Murray melangkah lebih jauh dalam rumusannya. Adalah benar, menurut pendapatnya, bahwa orang-orang mencoba untuk meredakan tegangan, baik secara fisiologis maupun psikologis bawaan. Bagaimanapun juga, Murray percaya bahwa bukanlah keadaan bebas-tegangan penuh yang kita usahakan capai. Proses dari meredakan tegangan inilah yang memuaskan, bukannya kondisi yang tanpa tegangan.
Malahan, keadaan bebas tegangan merupakan sumber distres hebat, menurut pandangan Murray. Manusia memiliki kebutuhan yang konstan untuk merasakan kegembiraan, aktifitas, kemajuan, pergerakan, dan semangat – dimana semuanya lebih melibatkan peningkatan daripada penurunan tegangan. Jadi, kita membangkitkan tegangan dalam rangka memperoleh kepuasan ketika meredakannya. Lagi-lagi, tindakan mengurangi teganganlah yang bisa lebih memberi kepuasan; Murray percaya bahwa keadaan ideal seseorang adalah selalu mempunyai tingkatan tegangan tertentu untuk diredakan.

Prinsip dasar ketiga dari sistem Murray adalah sifat bawaan longitudinal dari kepribadian. Kepribadian selalu berkembang dari waktu ke waktu. ”Riwayat dari organisme adalah organisme”. Kepribadian, dalam pengertiannya, dibangun dari semua kejadian hidup yang terjadi melalui pelajaran-pelajaran dalam kehidupan individual. Oleh karena itu, mempelajari peristiwa masa lalu adalah suatu kepentingan utama dalam kepribadian, dan dalam rangka mempelajari peristiwa itu, Murray mengajukan gagasan tentang serial dan prosiding. Hal-hal tersebut, pada intinya, merupakan unit-unit dari data yang digunakan oleh para personologis dan akan didiskusikan pada bagian “teknik-teknik inquiry” dalam bab ini.

Ada elemen-elemen dan prinsip-prinsip tambahan dalam pandangan Murray tentang sifat dasar kepribadian. Kepribadian selamanya mengalami perubahan dan kemajuan, tidak statis atau tetap; sehingga, tidak benar-benar dapat digambarkan. Sesuatu yang ada dalam keadaan konstan untuk berubah terus-menerus tidak dapat menjadi acuan secara cukup untuk sebuah penjelasan.
1. Murray juga berfokus pada keunikan kepribadian dari masing-masing individu, meskipun demikian dapat dikenali ada beberapa persamaan dari kesemua kepribadian itu. Seperti yang ia lihat, manusia individual sama seperti setiap orang lain, sama seperti beberapa orang lain, dan tidak sama seperti orang lain.

Bagian-bagian dari Kepribadian

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sistem Murray setidaknya merupakan sedikit bagian dari Freud. Pelatihan analitik Murray dipimpin sejalan dengan garis Freudian, dan analisis pribadinya dipimpin oleh aliran ortodok Freudian. Jejak Freud dapat dilihat secara jelas lewat formulasi Murray, tetapi ia merubah beberapa pengajaran Freud dalam rangka menjadikan hal tersebut sebagai suatu pandangan menurut dirinya sendiri.

Ketika berurusan dengan pembagian-pembagian dasar (istilah yang ia gunakan untuk menempati kata struktur) dari kepribadian, Murray menggunakan istilah id, superego, dan ego Freudian, tetapi konsepnya tidak sama dengan apa yang ada di dalam pikiran Freud.

Id

Seperti Freud, Murray mempercayai bahwa id merupakan tempat penyimpanan yang aman bagi semua kecenderungan impulsif. Seperti misalnya, id menyediakan energi untuk dan mengarahkan tingkah laku. Jadi, pada dasarnya id berpusat pada dorongan motivasi dari kepribadian.
Konsep Murray tentang id adalah bahwa id mengandung semua hal primitif, amoral, dan dorongan nafsu seperti yang digambarkan Freud tetapi juga mengandung dorongan bawaan lahir yang masyarakat putuskan untuk menerimanya dan bahkan menginginkannya. Disini kita dapat melihat bayangan pengaruh pandangan Jung, yang mempunyai kedua aspek, baik dan buruk. Sebagai contoh, id mengandung kecenderungan untuk berempati, meniru dan mengidentifikasi, bentuk cinta terhadap orang lain daripada hawa nafsu, dan kecenderungan untuk menguasai suatu lingkungan.
Sebenarnya semua aspek dari kepribadian – apa yang masyarakat sebut sebagai sesuatu yang baik seperti juga sebagai sesuatu yang jahat – muncul dari id, yang merupakan penyedia semua energi, emosi, dan kebutuhan bagi individual. Murray juga menyatakan bahwa kekuatan atau intensitas dari id berbeda-beda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Jadi, seseorang bisa terlihat memiliki kadar semangat yang lebih besar dan hasrat dan emosi yang besar daripada yang lainnya. Maka dari itu, masalah dalam mengontrol dan mengarahkan dorongan id tidak sama bagi semua orang; beberapa orang memiliki energi id yang lebih besar untuk mengatasinya.

Superego

Murray menempatkan stres yang besar dalam kekuatan yang dapat mempengaruhi lingkungan sosial, yang biasanya disebut sebagai budaya, dalam kepribadian. Sependapat dengan Freud, ia mengartikan superego sebagai proses internalisasi nilai-nilai budaya, norma-norma, dan lainnya, yang mengatur individu untuk mengevaluasi dan menilai tingkah laku dirinya sendiri dan juga orang lain. Bentuk dan hakekat dari superego pada anak-anak ditentukan oleh orang tua dan figur-figur penting lainnya pada usia dini, seperti yang dikatakan Freud.

Bagaimanapun juga, Murray merasa bahwa faktor-faktor lain juga membentuk superego. Termasuk di dalamnya yaitu teman sebaya dan bahan bacaan dan mitologi budaya. Ia kemudian juga melihat adanya pengaruh yang melampaui pengalaman masa kecil tersebut. Superego, oleh karena itu, tidak secara kaku terbentuk pada usia 5 tahun. Tetapi, terus berkembang dalam kehidupan, mencerminkan kebesaran kompleksitas dan kerumitan pengalaman yang dialami seseorang sejalan dengan pertumbuhannya.

Oleh karena, dalam konsep Murray, id mengandung dorongan baik sekaligus buruk – beberapa tidak perlu ditahan – superego tidak secara konstan bertentangan dengan id, seperti dalam pandangan Freud. Memang benar bahwa superego harus mencoba untuk mencegah dorongan id yang tidak baik (tidak diterima secara sosial), tetapi juga berfungsi untuk menentukan kapan, dimana, dan bagaimana suatu kebutuhan yang dapat diterima harus diekspresikan dan objek lingkungan mana yang paling bisa menerimanya.

Selagi superego berkembang, begitu juga halnya dengan ego-ideal. Ego-ideal ini membantu individu menetapkan tujuan jangka panjang untuk melakukan usaha keras. Ego-ideal merupakan ”gambaran seseorang ’dalam masa depan terbaiknya’”. Ideal ini sendiri mengandung ambisi dan aspirasi individu. Ini bisa saja sejalan dengan nilai-nilai dari superego atau bahkan bisa bertentangan. Dalam kasus selanjutnya, seseorang bisa saja menginginkan kesempurnaan bagi jenis tingkah laku yang melanggar norma budaya yang telah diinternalisasi, seperti ditunjukkan oleh seseorang yang berambisi menjadi ahli kriminal.

Ego

Ego merupakan pengatur rasionalitas dari kepribadian, dimana, dalam pandangan Freud, mencoba untuk mengubah atau menunda dorongan id yang tidak dapat diterima. Bagaimanapun juga, Murray mempertimbangkan ego melakukan lebih banyak hal daripada sekedar menjadi ”polisi” kepribadian. Dalam perannya sebagai pengatur utama seluruh tingkah laku, ego juga secara sadar menentukan dan berhasrat mengarahkan pada tingkah laku yang positif.
Ego dianggap sebagai penentu yang lebih berperan aktif dalam menentukan tingkah laku dibandingkan dengan apa yang telah disetujui Freud. Bukan hanya sebagai pembantu id, ego mengarahkan dan merencanakan secara sadar suatu tindakan; mencari dan membuat kesempatan untuk menciptakan kepuasan sebagai hasil dari memuaskan dorongan id positif. Ego merupakan pemilihan ”saya” secara spontan dari kepribadian dan mengikutsertakan intelektual dan kemampuan perseptual dari individu. Fungsi ego, bukan hanya untuk menahan kesenangan id tetapi juga untuk membantu perkembangan dan menghasilkan kesenangan melalui pengaturan dan pengarahan tindakan dari dorongan id yang dapat diterima.

Ego merupakan penengah antara id dan superego. Misalnya, ego bisa mendukung satu lebih dari yang lainnya. Sebagai contoh, apabila ego lebih mendukung id daripada superego, maka akan mengarahkan kepribadian terhadap kehidupan yang penuh dengan kejahatan. Ego bisa, tentu saja, menyatukan kedua aspek dari kepribadian sehingga apa yang seseorang ingin lakukan (id) harmonis dengan apa yang masyarakat terima sebagai sesuatu yang harus dilakukan (superego).

Seperti yang bisa kita lihat, ada kesempatan bagi konflik antara id dan superego dalam sistem Murray. Ego yang kuat bisa menengahi keduanya secara efektif, tetapi ego yang lemah dapat menjadikan kepribadian sebagai suatu tempat pertarungan. Perbedaan mendasar antara Murray dan Freud dalam hal ini adalah Murray tidak mempercayai bahwa konflik ini tidak dapat terelakkan.

Motivasi dalam Kepribadian : Kebutuhan

Sumbangan terpenting Murray dalam teori maupun penelitian bagi kepribadian adalah konsepnya tentang kebutuhan untuk menjelaskan motivasi dan pengarahan terhadap tingkah laku. Kerja kerasnya dalam motivasi, yang membentuk dasar atau inti dari teori kepribadiannya, telah menghasilkan ketelitian dan kemungkinan yang paling hati-hati dalam menentukan kategori-kategori kebutuhan yang dapat ditemukan dimanapun dalam psikologi. Sangat penting untuk dicatat bahwa konsep kebutuhan ini bukan berkembang dari introspeksi dirinya sendiri atau dari studi kasus pasien yang mengalami tritmen tetapi melalui studi intensif subjek yang normal.

Kebutuhan, dalam pandangan Murray, merupakan sebuah hipotesis ”suatu kejadian yang dibayangkan sebagai upaya melaporkan suatu fakta objektif dan subjektif tertentu”. Ini didasari oleh hal fisiologis, yang di dalamnya terkandung kekuatan fisiokimia di dalam otak yang mengatur dan mengarahkan semua kemampuan intelektual dan perseptual dari individu.

Kebutuhan dapat muncul karena kegiatan internal atau proses seperti rasa lapar atau rasa haus atau kejadian-kejadian dalam lingkungan. Dari apapun sumbernya, kebutuhan memunculkan suatu tingkatan tegangan yang berusaha dikurangi oleh organisme dengan cara memuaskan kebutuhan tersebut. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kebutuhan menguatkan dan mengarahkan tingkah laku; menggerakkan tingkah laku ke arah yang tepat untuk memuaskan kebutuhan tersebut.
Penelitian orisinil Murray, sekarang klasik, mengarahkan pada daftar dari 20 kebutuhan. Semenjak itu, Murray dan kolega-koleganya dan murid-muridnya menawarkan beberapa modifikasi, tetapi ke-20 kebutuhan orisinil tersebut masih mewakili kebutuhan yang terutama dalam sistemnya.

Dominance (n Dom)
Penguasaan
Untuk mengontrol lingkungan orang lain. Untuk mempengaruhi atau mengarahkan tingkah laku orang lain dengan sugesti, bujukan, persuasi, atau perintah. Meminta supaya jangan mengerjakan sesuatu, mengendalikan, atau melarang.

Deference (n Def)
Rasa hormat
Untuk mengagumi atau mendukung keunggulan orang lain. Untuk memuji, menghormati, atau memuliakan. Untuk berusaha menyamai atau melebihi yang patut dicontoh. Untuk menyesuaikan diri dengan adat atau kebiasaan.

Autonomy (n Auto)
Otonomi
Untuk melawan paksaan dan pembatasan. Untuk menjadi mandiri dan bebas dalam bertindak berdasarkan impuls. Untuk menentang adat atau kebiasaan-kebiasaan. Untuk menghindari atau terlepas dari kegiatan yang sudah ditentukan oleh kewenangan yang bersifat menguasai.

Aggression (n Agg)
Penyerangan
Untuk mengatasi lawan dengan penuh kekuatan. Untuk berkelahi. Untuk membalas rasa sakit atau luka. Untuk melawam secara kuat atau menghukum. Untuk mencela dan mengumpat dan memfitnah dan untuk meremehkan atau mengejek dan menertawakan dengan penuh dendam.

Abasement (n Aba)
Kerendahan diri
Untuk tunduk secara pasif kepada kekuatan eksternal. Untuk menerima luka, memikul kesalahan, kritikan, dan hukuman. Untuk menyerah dan mengakui kelemahan, kesalahan, pelanggaran, atau kekalahan. Untuk mencari dan menikmati kesedihan, hukuman, kesakitan, dan ketidakberuntungan.

Achievement (n Ach)
Prestasi
Untuk menyelesaikan sesuatu yang sulit, mengatasi rintangan, dan mencapai standar yang tinggi. Untuk bersaing dan mengungguli orang lain dan untuk menguasai, menggerakkan, atau mengatur objek-objek fisik, manusia, atau ide-ide.

Sentience (n Sen)
Keharuan
Untuk mencari dan menikmati kesan dan kenikmatan yang dapat ditangkap pancaindera, yang menyentuh perasaan.

Exhibition (n Exh)
Penonjolan diri
Untuk membuat suatu kesan. Untuk dilihat dan didengar. Untuk membangkitkan gairah, dipandang takjub, dikagumi, menghibur, mengejutkan, membangkitkan minat, menarik perhatian, atau memikat hati.

Play (n Play)
Bermain
Untuk melakukan tindakan bersenang-senang tanpa tujuan lebih lanjut. Untuk tertawa dan membuat lelucon terhadap apapun. Untuk menyediakan waktu luang bagi olahraga, menari, minum-minum, berpesta, bermain kartu.



Affiliation (n Aff)
Persatuan, gabungan
Untuk menjadikan diri dekat dan menikmati kerjasama dengan sekutu lain – satu yang mirip subjeknya atau satu yang menyukai objeknya. Untuk menyenangi dan mendapati kasih sayang dari keterikatan antara satu dengan yang lain. Untuk mengikuti dan tetap setia terhadap teman.

Rejection (n Rej)
Penolakan
Untuk memisahkan diri dari orang lain yang dipandang negatif. Untuk mengucilkan, tidak memperdulikan, membuang, atau tetap mengacuhkan kelemahan yang lain.

Succorance (n Suc)
Membuat orang iba
Untuk mendapatkan kepuasan kebutuhan dari bantuan simpatik orang lain. Untuk selalu punya pendukung. Untuk dirawat, didukung, ditopang, dikelilingi, dilindungi, dituruti kehendaknya, dimaafkan, atau dinasehati.

Nurturance (n Nur)
Pemeliharaan
Untuk memberikan rasa simpati dan memuaskan kebutuhan orang lain yang tidak berdaya – seorang bayi atau objek apapun yang lemah, cacat, lelah, tidak berpengalaman, terkalahkan, dipermalukan, kesepian, ditolak, sakit, atau kebingungan mental. Untuk menyediakan kebutuhan, menolong, mendukung, menghibur, melindungi, memberikan rasa nyaman, merawat, atau menyembuhkan.

Inavoidance (n Inf)
Menghindari rasa hina
Untuk menghindari penghinaan. Untuk keluar dari situasi yang memalukan atau menghindari kondisi yang bisa menimbulkan pelecehan. Untuk menahan diri dalam bertindak karena takut akan kegagalan.



Defendance (n Dfd)
Membela diri
Untuk mempertahankan diri terhadap serangan, kritik, dan celaan. Untuk menyembunyikan atau membenarkan perbuatan tercela, kesalahan atau penghinaan.

Counteraction (n Cnt)
Kebutuhan untuk mengimbangi
Untuk menguasai atau memperbaiki kegagalan dengan berusaha lagi. Untuk menghilangkan penghinaan oleh tindakan yang dilanjutkan kembali. Untuk mengatasi kelemahan, menekan rasa takut. Untuk mempertahankan harga diri dan kebanggaan diri dalam standar yang tinggi.

Harmavoidance (n Harm)
Menghindari bahaya
Untuk menghindari rasa sakit, luka fisik, penyakit, dan kematian. Untuk melarikan diri dari situasi yang berbahaya. Untuk melakukan tindakan pencegahan.

Order (n Ord)
Teratur
Untuk membuat segala sesuatunya secara teratur. Untuk menjaga kebersihan, penyusunan, pengorganisasian, keseimbangan, kerapian, dan ketelitian.

Understanding (n Und)
Pemahaman
Untuk menanyakan atau menjawab pertanyaan umum. Untuk mempunyai ketertarikan pada teori, untuk menganalisis dan menggeneralisasi peristiwa.

Sex (n Sex)
Seks
Untuk membangun dan meningkatkan hubungan yang erotik. Untuk melakukan hubungan seksual.

Murray tidak berpendapat bahwa semua kebutuhan tersebut ada pada tiap orang. Ada beberapa orang yang mungkin mengalami semuanya, setidaknya selama sepanjang hidupnya, tetapi ada orang lainnya yang tidak pernah mengalami beberapa hal dari kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan ini ada yang mendukung atau sejalan dengan yang lainnya, tetapi juga ada beberapa kebutuhan yang berlawanan antara satu dengan yang lainnya. Melalui pengenalan akan hal tersebut, Murray kemudian menjelaskan bahwa terdapat 5 cara dalam mengelompokkan kebutuhan.

CARA MENGELOMPOKKAN KEBUTUHAN

Pengelompokkan pertama dari kebutuhan ialah dikotomi primer (atau viscerogenic) dan sekunder (atau psychogenic). Kebutuhan primer muncul dari proses di dalam tubuh dan meliputi kebutuhan untuk kepuasan utama demi kelangsungan hidup – udara, air, makanan, defekasi (buang air), menghindari bahaya – begitu juga dengan beberapa kebutuhan yang tidak perlu dipuaskan untuk mempertahankan hidupnya, seperti seks dan rasa haru.

Kebutuhan sekunder atau kebutuhan psychogenic muncul secara tidak langsung dari kebutuhan primer (yang tidak dijelaskan oleh Murray) tetapi tidak berhubungan atau berasal dari dalam tubuh. Disebut sekunder bukan karena kebutuhan ini kurang penting bagi organisme tetapi karena kebutuhan tersebut berkembang setelah kebutuhan primer. Kebutuhan ini memusatkan perhatian pada mental dan kepuasan emosional dan mencakup kebanyakan dari kebutuhan yang telah disebutkan sebelumnya, seperti kebutuhan untuk meraih prestasi (n Ach), menguasai (n Dom), bergabung (n Aff), dan lainnya.

Cara lain untuk mengelompokkan kebutuhan ialah dalam hal focal dan dengan diffuse. Pembedaan ini berkaitan dengan sejumlah obyek yang berguna untuk memuaskan kebutuhan. Kebutuhan focal dapat dipuaskan hanya dengan satu atau yang paling baik sedikit tujuan objek, sementara kebutuhan diffuse dapat dipuaskan oleh banyak objek.

Pengelompokkan ketiga ialah ke dalam tipe kebutuhan proaktif dan reaktif. Kebutuhan reaktif meliputi respon bagi sesuatu yang spesifik dalam lingkungan, di mana kebutuhan itu hanya muncul ketika objek itu muncul atau terlihat. Menghindari bahaya, sebagai contoh, muncul hanya apabila objek yang mengancam itu hadir. Idealnya, ini hanya ada ketika muncul bahaya-bahaya yang harus dihindari.
Kebutuhan proaktif, di lain pihak, tidak bergantung pada kehadiran objek khusus apa pun di dalam lingkungan. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan spontan yang memanggil keluar tingkah laku yang seharusnya dilakukan kapan pun dibutuhkan, tidak bergantung pada lingkungan. Seseorang yang lapar, misalnya, mencari makanan. Ia tidak perlu menunggu untuk bereaksi apabila ada stimulus yang tepat, seperti iklan hamburger, diperlihatkan.

Kebutuhan manifest dan latent merupakan tipe keempat dari pengelompokkan. Kebutuhan manifest diekspresikan dengan jelas karena masyarakat menerima ekspresi itu dan terkadang dihargai. Dalam kehidupan bermasyarakat kita, pencapaian suatu prestasi merupakan kebutuhan; ekspresi tersebut menunjuk pada penerimaan sosial.

Kebutuhan lain, bagaimanapun juga, hanya dapat diekspresikan secara samar, di dalam fantasi atau mimpi atau melalui simbol. Agresi, misalnya, di dalam lingkungan yang menahan ekspresi tersebut, hanya dapat ditunjukkan secara samar dan tetap menjadi latent.

Pengelompokkan kelima meliputi tipe kebutuhan effect, process, dan modal-activity. Kebutuhan effect mengarah pada atau menyebabkan suatu efek; yaitu, kebutuhan ini secara langsung dan cepat mengarah pada suatu objek. Individu dapat mengembangkan suatu kepuasan yang besar melalui berbagai macam kegiatan yang mengacu pada tingkah laku pemenuhan kebutuhan-kepuasan. Murray menyebutnya sebagai sheer function pleasure atau proses kegiatan dan mengartikannya sebagai suatu kesenangan yang diperoleh dari melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan hati dengan melakukannya.

Terakhir, terkadang ada kebutuhan yang berada di atas sheer function pleasure. Tidak berisi tentang sekedar melakukan sesuatu, sekedar melakukan suatu tindakan, tetapi ada kesenangan yang muncul untuk melakukannya dengan sangat amat baik. Tingkah laku sekarang tidak bisa membuat puas ketika dilakukan hanya sekedarnya; itu harus dilakukan dengan sangat baik. Murray menyebutnya sebagai kebutuhan modal karena kesenangan muncul dari cara hidup dalam menunjukkan tingkah laku.


ASPEK TAMBAHAN DARI KEBUTUHAN

Kebutuhan juga dapat dibedakan menurut kondisi kepentingannya atau keinginannya dengan yang mana ada kekuatan emosional dalam melakukan suatu tingkah laku, suatu karakteristik yang Murray sebut sebagai kebutuhan prepotency. Apabila, sebagai contoh, kebutuhan terhadap udara dan air tidak terpuaskan, hal tersebut bisa menjadi kebutuhan yang paling diinginkan dan menjadi tingkah laku yang mendominasi secara keseluruhan. Pada waktu lainnya, apabila kebutuhan primer sudah dipuaskan, kebutuhan agresi mungkin menjadi kebutuhan yang terkuat.

Kebutuhan tertentu, meskipun tidak selalu sama, bisa jadi saling melengkapi, sehingga dapat dipuaskan oleh satu tingkah laku atau satu set tingkah laku. Sebagai contoh, dengan mendapatkan popularitas dan kekayaan melalui suatu pekerjaan, pencapaian prestasi, penguasaan, dan otonomi semua kebutuhannnya akan terpuaskan.

Konsep subsidiation mengacu pada situasi dimana satu kebutuhan dilakukan untuk membantu memuaskan kebutuhan lainnya. Sebagai contoh, untuk memuaskan kebutuhan afiliasi (n Aff) dengan bergabung dan berbaur bersama orang lain, mungkin menjadi penting untuk berlaku sopan dan menghargai orang lain (hanya untuk memenuhi kebutuhan dihargai). Kebutuhan untuk dihargai kemudian menjadi pelengkap bagi kebutuhan afiliasi.

Murray mengakui bahwa objek-objek lingkungan dan peristiwa-peristiwa pada masa anak-anak dapat secara kuat mempengaruhi perkembangan kebutuhan tertentu dan, dalam kehidupan nantinya, dapat menyebabkan dan memunculkan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Ia menyebutnya sebagai pengaruh tekanan, karena objek atau peristiwa menekan atau memberi tegangan pada individu dalam cara tertentu.

Tentu saja, seperti yang kita tahu, kita seringkali menangkap dunia sekitar kita dalam kondisi yang subjektif; yang adalah, gambaran objek-objek dan peristiwa-peristiwa kita biasanya tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Jadi, pengaruh tekanan dari lingkungan mungkin ditangkap secara subjektif atau objektif. Tekanan yang ditangkap secara objektif – yang mengarahkan pada reflek sesuai kenyataan – disebut tekanan alfa, sementara tekanan yang ditangkap secara subjektif dan yang diinterpretasikan disebut tekanan beta.

Tekanan juga mempunyai kekuatan untuk menarik atau menolak individu; itu bisa menjadi positif atau negatif dalam hal emosional. Murray menggunakan istilah Freud cathexis untuk menggambarkan karakteristik tekanan ini. Jadi, jika seseorang tertarik dengan uang, maka ia bisa dikatakan terikat secara positif dengan hal tersebut.

Dikarenakan adanya kemungkinan interaksi yang selalu ada antara kebutuhan dan tekanan, Murray mengenalkan konsep lain: tema. Tema – “struktur dinamis dari sebuah peristiwa” – adalah penggabungan dari tekanan dan kebutuhan, mengkombinasikan sifat alami lingkungan dan sifat alami orang itu. Sebagian besar secara nirsadar, tema menghubungkan kebutuhan-kebutuhan dan tekanan-tekanan dalam satu pola, di mana fungsinya adalah untuk memberikan keharmonisan pada tingkah laku individu. Pola dari tema tersebut terbentuk melalui pengalaman pada masa anak-anak dan kemudian akan menjadi tekanan yang kuat bagi kepribadian individu. Pola tersebut membawa kesatuan dan keteraturan bagi tingkah laku yang kemudian disebut sebagai kesatuan-tema.
Dalam pekerjaan selanjutnya, Murray mengenalkan konsep lainnya, value-vector, yang dimaksudkan untuk mengganti konsep awalnya tentang kebutuhan. Vector mengacu pada arah yang ditunjukkan lewat tingkah laku dan intensitas hasrat yang memunculkan tingkah laku. Beberapa vector yang dibuat oleh Murray di antaranya ialah memperoleh, menghindar, membangun, menghancurkan, dan memaksa keluar .

Value (nilai) mengacu pada hal-hal ideal yang dipegang individu, mencakup intelektual, ideologi, estetika. Dalam kerjanya bersama dengan individu, Murray mengumpulkan informasi tentang apa yang berguna bagi orang itu (nilai) dan bagaimana ia berperilaku dalam berhubungan dengan nilai ini (vector) dan menyusunnya dalam satu deretan dan kolom matriks. Konsep tersebut, masih terus dikembangkan, dimaksudkan untuk menyediakan penjelasan objektif yang spesifik dari tingkah laku untuk menggantikan penjelasan teori yang samar yang muncul dari penggunaan konsep kebutuhan dan tekanan.

Perkembangan Kepribadian

Murray menggunakan pendekatan longitudinal terhadap kepribadian, menekankan pada perkembangan sejarah individu. Pendekatannya terhadap perkembangan kepribadian tergambar seperti pada pandangan tradisional Freud, yang kemudian ditambahkan dan diperluas olehnya. Seperti Freud, ia memusatkan pada peristiwa atau pengalaman masa awal anak-anak dan pada pola tingkah laku yang terbentuk selama tahun-tahun penting tersebut. Murray membagi masa anak-anak menjadi lima tahapan, masing-masing ditandai oleh kondisi kepuasan yang dipengaruhi oleh tuntutan lingkungan. Setiap tahapan meninggalkan jejak (tanda) dalam kepribadian dalam bentuk kompleks, yang terpola, yang terbentuk dari kesan yang mendalam pada setiap tahap, yang secara tidak sadar mengarahkan tingkah laku pada perkembangan berikutnya.

Setiap orang mengembangkan lima macam kompleks ini, menurut Murray, dikarenakan setiap orang melewati lima tahapan perkembangan yang sama. Oleh karena itu, tidak ada yang abnormal tentang itu, kecuali kalau itu menjadi ekstrem. Ketika hal tersebut diperlihatkan secara ekstrem, orang akan tetap terfiksasi pada satu tingkatan perkembangan. Kepribadiannya kemudian menjadi tidak dapat berkembang secara spontan dan fleksibel, yang akan mempengaruhi pembentukan ego dan superego.
Kelima kondisi kepuasan atau tahapan pada masa anak-anak dan keterhubungannya dengan kompleks tersebut adalah:
1. rasa aman selama berada di dalam kandungan kompleks klaustral
2. kenikmatan dari menghisap nutrisi makanan selama itu kompleks oral
berlangsung
1. kepuasan yang dihasilkan dari proses defakasi kompleks anal
2. kepuasan yang muncul bersamaan dengan buang air kecil kompleks uretral
1. kepuasan kelamin kompleks kastrasi

KOMPLEKS KAUSTRAL
Sebagai sesuatu hal yang tak dapat kita pungkiri, hidup di dalam kandungan sangat aman, tenang, dan sangat tergantung, suatu kondisi yang sering kita harapkan untuk dapat kita alami kembali. Dalam bentuk sederhana, kompleks ini dapat termanifestasi dalam keinginan untuk berada di tempat yang sempit, hangat, gelap, yang aman dan terasing. Bisa berarti untuk tetap berada di bawah selimut tidur ketika pagi hari, memiliki ruang kecil yang kedap suara atau tempat untuk bersembunyi, hidup di dalam biara atau di pulau terpencil, atau menikmati naik perahu atau sebuah limosin.

Keinginan untuk kembali pada kondisi seperti sewaktu dalam kandungan ini, bagaimanapun juga, hanyalah merupakan salah satu dari ketiga bentuk kompleks kaustral yang mungkin terjadi. Kompleks tersebut juga dapat berpusat pada perasaan ketidakberdayaan dan kekurangan akan dukungan di dalam kandungan yang mungkin bisa menyebabkan seseorang menjadi takut akan ruang terbuka, jatuh, tenggelam, api, gempa bumi, atau keadaan lainnya yang menimbulkan perubahan dan pembaharuan.

Kompleks kaustral yang ketiga sebenarnya merupakan kompleks antiklaustral yang berpusat di sekitar ketakutan akan kekurangan udara untuk bernapas dan keterbatasan. Murray menyebutnya sebagai kompleks egression; yang tercermin melalui kesenangan akan ruang terbuka dan udara segar dan pergerakan, perubahan, dan pembaharuan. Dapat juga tercermin lewat claustrophobia.

KOMPLEKS ORAL
Terdapat juga tiga macam jenis pada kompleks oral. Kompleks oral succorance (oral-kasihan) merupakan kombinasi dari aktivitas mulut, kebiasaan pasif, dan kebutuhan untuk didukung dan dilindungi. Tingkah laku yang merupakan cerminan daripada kompleks ini di antaranya menghisap, mencium, makan, minum, dan “lapar” akan kasih sayang, simpati, perlindungan, cinta. Kompleks oral agression (oral-agresi) menyatukan kegiatan oral dan agresi dalam bentuk menggigit, meludah, atau berteriak, atau dalam bentuk verbal agresi seperti sarkasme. Tingkah laku yang termasuk dalam kompleks oral rejection (oral-penolakan) ialah memuntahkan, memilih-milih makanan, makan sedikit, ketakutan terhadap kontaminasi oral (seperti melalui ciuman), dan kebutuhan mengasingkan diri.

KOMPLEKS ANAL
Ada dua kompleks anal, meliputi hanya kedua bentuk aktivitas yang bisa dilatih seseorang lewat anal – menolak atau menyimpan. Pada kompleks anal ejection ada ketertarikan pada defakasi, termasuk humor dengan anal, dan ketertarikan pada feses (kotoran) atau benda-benda seperti kotoran (tanah, lumpur, adukan semen, atau tanah liat). Agresi seringkali menjadi bagian dari kompleks ini dan tercermin lewat menjatuhkan atau membanting barang, menembakkan pistol, atau meledakkan bom. Tipe orang semacam ini biasanya jorok dan tidak teratur. Kompleks anal retention dapat terlihat melalui jenis tingkah laku yang suka menyimpan atau mengingat – menimbun, menabung, dan mengumpulkan barang-barang – dan dalam kebersihan, kerapian, dan keteraturan.

KOMPLEKS URETRAL
Kompleks ini khas bagi sistem Murray dan yang dihubungkan dengan ambisi yang berlebihan, ketidakjelasan sistem diri, sejarah dari suka mengompol, dan rasa mencintai diri sendiri yang besar. Juga disebut sebagai kompleks Icarus, mengikuti figur dari mitos Yunani yang terbang sangat dekat dengan matahari sampai-sampai perekat yang menyatukan sayapnya meleleh. Seperti Icarus, seseorang dengan kompleks ini mempunyai cita-cita yang terlalu tinggi, dan mimpi-mimpinya hancur karena kegagalan.

KOMPLEKS KASTRASI
Murray tidak setuju dengan ide Freud yang menyatakan bahwa ketakutan akan kastrasi (kebiri) merupakan inti dari kecemasan kebanyakan orang dewasa. Ia mengartikan kompleks ini secara lebih sempit dan lebih didasarkan pada “fantasi bahwa penis mungkin akan dipotong”. Murray percaya bahwa ketakutan semacam itu berkembang dari masturbasi pada masa anak-anak dan hukuman dari orang tua yang mungkin menyertainya.

Teknik-Teknik Inquiry

Teknik-teknik Murray dalam mengumpulkan data termasuk unik apabila dibandingkan dengan teoritis-teoritis kepribadian lainnya yang telah dibahas. Bukannya mempelajari kepribadian yang abnormal, menggunakan perangkat terapeutik yang ketat seperti psikoanalisis, ia lebih banyak mempelajari kepribadian yang normal, menggunakan berbagai macam teknik dan rencana-rencana.
Program penelitian yang dipimpin olehnya, sangat tidak sama seperti yang pernah dilakukan sebelum-sebelumnya, mengumpulkan data dalam jumlah yang besar dari 51 mahasiswa pria di Harvard, yang dipelajari secara intensif selama periode waktu 6 bulan. Subjek-subjeknya diwawancarai beberapa kali dan diberikan berbagai macam tes, kuesioner, dan pemberian peringkat terhadap tingkah laku yang menunjukkan, lebih daripada yang lainnya, ingatan masa anak-anak, hubungan kekeluargaan, perkembangan seksual, pembelajaran sensorimotorik, standar-standar nilai, dan interaksi sosial.
Subjek-subjek tersebut dites, diwawancarai, dan dipelajari oleh 28 staf ahli sains, termasuk di dalamnya psikiater, psikolog, dan antropolog. Jadi, tiap-tiap orang diamati oleh para spesialis dengan perlakuan dan latar belakang yang berbeda menggunakan teknik-teknik yang berbeda, dengan persamaan, dalam prinsip, digunakannya diagnosis medik.

Setiap pengamat membuat diagnosis sendiri-sendiri bagi subjek. Ini kemudian dibicarakan dalam suatu komite, yang disebut Murray sebagai Dewan Diagnostik, untuk evaluasi akhir. Dewan tersebut terdiri dari 5 orang anggota staf yang paling berpengalaman. Mereka memeriksa semua bukti-bukti bagi masing-masing subjek untuk sampai pada diagnosis akhir oleh prosedur standar komite lewat diskusi dan pengambilan suara terbanyak. Evaluasi akhir atau diagnosisnya dicapai melalui pengambilan suara terbanyak (meskipun secara jelas Murray memberikan bobot yang lebih bagi penilaiannya sendiri).
Begitu banyak data yang dikumpulkan dari kehidupan masing-masing subjek sehingga penting untuk membaginya dan membedakannya menurut interval waktu atau segmen-segmen. Hal mendasar atau segmen temporal dari tingkah laku ialah prosiding, suatu periode waktu di mana pola perilaku yang penting dibawa melalui dari awal hingga akhir. Prosiding selalu melibatkan interaksi antara orang tersebut dengan orang lain atau objek di dalam lingkungan. Bagaimanapun juga, interaksi ini bisa terjadi lewat fantasi sama seperti dalam kenyataan. Interaksi yang dibayangkan disebut sebagai prosiding internal, sementara interaksi yang nyata disebut sebagai prosiding eksternal.
Prosiding seringkali saling terkait, tidak harus selalu dalam waktu tetapi dalam fungsi. Sebagai contoh, pada hari Senin seorang pria bisa bertemu seorang wanita dan mengajaknya kencan (suatu prosiding eksternal). Ia mungkin membayangkan tentang wanita tersebut dalam berbagai waktu selama seminggu tersebut (suatu prosiding internal), dan mungkin akan memotong rambutnya dan mencuci sendiri mobilnya (suatu prosiding eksternal) dalam rangka persiapan untuk kencannya. Masing-masing dari tindakan tersebut, termasuk juga yang dibayangkannya, ialah prosiding, tetapi dilakukan secara bersama – seperti seharusnya, dikarenakan hal tersebut dihubungkan pada fungsi atau tujuan yang sama – yang disebut serial. Untuk lebih jelasnya, serial ialah “suatu urutan keberlanjutan intermiten yang terorganisir secara langsung”.

Yang lebih bertahan lama, dan dalam jangka waktu yang lebih panjang, yang lebih penting daripada penemuan program penelitian Murray ialah metode-metode untuk menilai kepribadian yang telah dikembangkannya. Tentu saja teknik yang paling dikenal ialah Thematic Apperception Test (TAT), yang telah digunakan sama luasnya dengan Rorschach Inkblot Test, teknik proyektif lainnya.
TAT telah secara luas diaplikasikan baik dalam penelitian maupun pekerjaan diagnosis. Ini secara luas digunakan dalam praktik klinik dan telah menggerakkan suatu penawaran yang baik dari penelitian secara samar pada semua aspek tingkah laku manusia, mulai dari investigasi akademis oleh sekelompok kecil orang sampai kepada penilaian tingkah laku bagi konsumen dalam pangsa pasar. (Perlu diingat, bagaimanapun juga, kesuksesan dari tes ini tidak secara otomatis mencerminkan kesuksesan teori kepribadiannya. Ini adalah suatu teknik untuk menggali informasi dan bukannya menjadi inti dari teorinya).

Salah satu kebutuhan dari Murray – pencapaian prestasi (n Ach) – telah menjadi subjek dari penelitian mendalam dan lengkap, yang terutama dipimpin oleh David McClelland. Kebutuhan untuk bersatu (n Aff) juga menjadi subjek yang populer untuk dipelajari. 15 dari kebutuhan Murray telah dijadikan bagian dari tes objektif kepribadian yang populer, Edwards Personal Preference Schedule, yang digunakan dalam berbagai macam situasi.

Jadi, sudah jelas bahwa berbagai aspek dari pekerjaan Murray telah menjadi stimuli yang tinggi bagi perkembangan penelitian dalam asesmen kepribadian.

Gambaran Murray Mengenai Sifat Alami Manusia

Meskipun teori kepribadian Murray setuju dengan Freud dalam berbagai poin, gambarannya terhadap sifat alami manusia cukup berbeda. Meskipun tujuan akhir dan tujuan yang penting dalam kehidupan Murray – yang, sama seperti Freud, ialah peredaan tegangan – tetap dinyatakan dalam perspektif yang berbeda. Menurut Murray, tujuan akhir kita bukanlah kondisi bebas-tegangan tetapi lebih kepada kepuasan yang timbul dari proses meredakan tegangan tersebut.


Menanggapi kontroversi kehendak bebas-kehendak yang diatur, Murray berpendapat bahwa kepribadian menjadi bagian yang ditentukan oleh kebutuhan dan oleh lingkungan. Ia menyetujui adanya tingkatan tertentu bagi kehendak bebas, betapapun kecilnya, dalam kemampuan kita untuk berubah dan bertumbuh. Ia melihat setiap manusia sebagai seseorang yang unik dan tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya tetapi juga mengakui adanya persamaan dalam kepribadian dari semua orang.

Murray percaya bahwa kita dibentuk oleh faktor genetik dan oleh lingkungan, dan masing-masing faktor tersebut punya pengaruh yang seimbang. Kita tidak dapat mengerti kepribadian kalau kita tidak bisa menerima efek dari dorongan fisiologis dan melalui stimuli dari keadaan fisik, sosial, dan budaya suatu lingkungan.

Pandangan Murray terhadap sifat alami manusia, berdasar pada suatu keoptimisan. Ia secara lantang menyuarakan kritikannya terhadap bagian psikologi yang memandang negatif dan menggambarkan kerendahan harga diri seorang manusia. Ia berpendapat bahwa, dengan kekuatan yang besar dari kreatifitas, imaginasi, dan alasan, kita mampu mengatasi segala permasalahan yang kita hadapi. Sejalan dengan keyakinan kita, Murray banyak melibatkan usaha untuk memperbaiki keadaan sosial dan permasalahan pribadi menjadi lebih baik. Ia telah memusatkan perhatian dengan tingkat kedekatan dua-orang (seperti dalam pernikahan) dan dalam tingkatan budaya asal, dan ia telah mempublikasikan penghentian secara resmi terhadap perang dan membentuk kesatuan dunia global.
Orientasi kemanusiaan, menurut pandangan Murray, mengarah secara luas pada masa depan. Ketika ia menyadari adanya jejak dari pengalaman masa anak-anak terhadap tingkah laku sekarang, ia tidak menunjukkan keseluruhan keterpenjaraan masa lalu kita. Kompleks pada masa anak-anak dalam sistemnya dapat secara mendasar mempengaruhi perkembangan kita, tetapi kepribadian juga dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi sekarang ini dan aspirasi pada masa depan. Kita mempunyai kemampuan berkesinambungan untuk bertumbuh dan berkembang; dimana, pertumbuhan semacam itu adalah alami dan pasti terjadi pada manusia. Kita bisa berubah melalui rasionalisasi kita sendiri dan kemampuan kreatif, dan jika kita sebagai individu bisa berubah, secara bersama kita bisa merubah sistem sosial dimana kita tinggal.

Komentar Akhir

Murray sangat berhati-hati dalam menyebutkan anggapannya tentang sistem personologinya yang masih berada pada tahap embrio dan masih sedang berkembang. Ini bukan, dalam pandangannya, sistem yang selesai dan lengkap dalam artian apapun. Aspek dalam sistemnya – dengan sifat alami masih-berkembangnya – harus disimpan dalam pikiran ketika kita menganggap kritikannya bertentangan dengan hal itu. Kita tidak bisa secara keseluruhan menghancurkan suatu bangunan sebagai sesuatu yang jelek atau tidak berguna, atau memuji sebagai sesuatu yang indah dan berguna, ketika masih hanya ada bangunan sementara.

Satu masalah bagi pengembangan dan pengevaluasian dari posisi Murray ialah karena hanya beberapa bagian saja yang dipublikasikannya. Kepandaiannya dan ketotalitasannya dalam berpikir, hanya dikupas dalam jumlah terbatas untuk studi mendalam. Pengaruhnya secara jelas dirasakan secara mendalam oleh mereka yang bekerja bersamanya – oleh mereka yang mempunyai akses terhadap spekulasinya yang luas, yang dikupasnya dalam kebanyakan percakapan biasa. Sementara beberapa, mungkin juga banyak, ide-idenya telah diikuti oleh murid-muridnya dan kolega-koleganya, sedangkan yang lainnya menjadi bahan studi publik.

Ada juga fakta yang menyebutkan bahwa apa yang telah dipublikasikannya sulit untuk dibaca, bahasanya sukar dimengerti, formal, dan menggunakan teknik tingkat tinggi. Tentu saja ini membatasi penyebaran ide-idenya untuk mendidik publik dan termasuk kebanyakan profesional. Di saat kerjanya telah menjadi inspirasi bagi banyak penelitian, penelitiannya telah memimpin, kebanyakan bagiannya, pada keterbatasan aspek dari teorinya seperti misalnya pencapaian prestasi (n Ach) dan kebutuhan bersatu (n Aff), dan pada teknik-teknik menilai kepribadian. Jadi, hanya aspek-aspek tertentu dari teorinya yang telah dimasukan dalam tes percobaan, bukannya pada teori secara keseluruhan. Tentu saja sekarang ini kita akan mengenali bahwa kritikan ini tidak unik bagi teori Murray.
Aspek-aspek tertentu dalam pekerjaannya telah dikritik, dimulai dari metode penelitiannya. Timbul suatu perdebatan bahwa ketika Dewan Diagnostik yang dapat dikatakan demokratis, megharuskan itu menjadi sesuatu yang ilmiah. Untuk mencapai suatu kesimpulan yang ilmiah oleh aturan terutama bisa menjadi suatu prosedur yang tidak objektif. Pertanyaan lain yang ditanyakan dari sistemnya berhubungan dengan konsepnya tentang prosiding dan serial di mana terhadap hal ini terdapat bantahan bahwa bagian-bagian temporalnya diartikan terlalu samar untuk diidentifikasi atau dibatasi secara pasti. Seperti apa aturan bagi “pola tingkah laku yang signifikan”? Apa yang terjadi dengan yang dianggap yang tidak signifikan itu? Berapa lama suatu prosiding itu? Ini adalah beberapa pertanyaan yang belum bisa dijawab secara memuaskan.

Beberapa orang berpendapat bahwa klasifikasi kebutuhan Murray terlalu kompleks dan ada suatu tumpang tindih di antara kebutuhan-kebutuhan tersebut. Juga tidak terlalu jelas bagaimana kebutuhan tersebut berhubungan dengan aspek-aspek lainnya dalam kepribadian dan bagaimana kebutuhan-kebutuhan tersebut berkembang dalam individu.

Bagaimanapun kompleksnya klasifikasi kebutuhannya, tidak ada penyangkalan tentang betapa besarnya efek konsepnya bagi penelitian kepribadian, terutama yang berhubungan dengan pembuatan tes psikologi. Dalam hal teori, konsepnya tentang kebutuhan dan hal penting yang ditempatkan dalam motivasinya telah berpengaruh besar bagi studi kepribadian.
Secara keseluruhan, mungkin aman untuk berkata bahwa inovasinya pada teknik (seperti pada TAT), pengaruhnya pada metode penilaian kepribadian dan efek personal yang dibuatnya setidaknya bagi dua generasi peneliti personologi selama tahun-tahunnya di Harvard mempunyai efek yang lebih tahan lama dibandingkan dengan sistem teorinya. Pengaruh semacam itu begitu besar, yang dapat dibuktikan lewat penghargaan yang diperolehnya, dari American Psychological Association dan dari American Psychological Foundation yang diberikan dalam rangka menghargai kontribusi pentingnya bagi studi kepribadian.




TEORI PSIKOLOGI HUMANISTIK

MATA KULIAH : PSIKOLOGI HUMANISTIK

1.Teori James Lounge
mereka mengeluarkan teory yang sama dalam waktu yang hampir sama
cara berfikirnya:
pemikiran secara umum : kuda datang --> muncul perasaan takut --> lari
pemikiran james lounge : kuda datang --> lari --> muncul rasa takut.
disinilah letak characteristik dari teory james lounge.
kesimpulannya : teory james lounge ini menjelaskan bahwa segera setelah kita merasakan stimulus(kuda datang) maka akan terjadi perubahan secara fisiologis baru kemudian muncul emosi yaitu berupa ketakutan.
akan tetapi sebenarnya james lounge ini tidak pernah mengexperimentkan teorynya ini. ada seorang ahli ilmu syaraf yang tertarik pada studi ini mencoba untuk bereksperiment tentang teory ini.
berdasarkan teory ini berarti orang yang cacat yang tidak bisa melakukan gerak fisik tidak akan pernah merasakan emosi.tetapi kenyataannya mereka malu saat tahu klo mereka ngompol , trus ngeliat makanan enak tapi sadar klo makanan itu gak bisa dimakan, mereka jadi sedih, juga terkadang mereka kelahi dengan perawatnya.
tetapi walaupun demikian teory ini masih dipakai sampai sekarnag, karena ada masanya secara pengalaman teory ini benar.
contohnya : semakin nangis terkadang kita akan semakin merasa sedih, trus ada masanya pada saat kita ketakutan semakin kita lari perasaan takut itu semakin
bertambah.

d) Teori Belajar Sosial (social Learning Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking),
Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku
Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal
Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan
Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.
Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas

Kepribadian
1. CONSCIOUS | UNCONSCIOUS
Sadar dan tak sadar adalah dimensi yang sejak lama ada dalam teori kepribadian. Para pendukung Psikoanalisis (Freud, Jung, Horney) adalah orang-orang yang menekankan bahwa kepribadian dikontrol oleh proses yang tidak disadari. Sementara Psikologi Aliran Humanisme menekankan pada faktor kesadaran sebagai pembentuk kepribadian (Allport, Rogers, Maslow).

2. HEREDITY | ENVIRONMENT
Pada dasarnya hampir semua teori kepribadian mengakui peran faktor keturunan sebagai penentu kepribadian sseorang. Tetapi kalangan Behaviorist mengatakan bahwa kepribadian dapat dipahami tanpa harus mempertimbangkan faktor genetis dan biologis. Rogers & Bandura menekankan pada lingkungan sosial, dimana kepribadian adalah suatu proses belajar sosial seseorang.

3. ACQUISITION | PROCESS OF LEARNING
Teori Behaviorisme lebih menekankan pada proses belajar yang membentuk suatu kerpibadian, yaitu cara bagaimana suatu tingkah laku dimodifikasi. Dan biasanya teori-teori kepribadian mengakui peran proses belajar dalam pembentukan suatu kepribadian. Walaupun demikian, ada beberapa teorist yang juga menekankan pada acquisition of behavior, misalnya Cattel dan Murray.
4. PAST | PRESENT
Sigmund Freud adalah pendiri Psikoanalisis yang mengatakan bahwa kepribadian adalah hasil dari bentukan masa lalu, yaitu masa 5 tahun pertama kehidupan. Setelah masa itu, kepribadian hanyalah ulangan atau fiksasi dari apa yang didapat dulu. Dan pandangan ini menjadi pegangan dalam aliran psikoanalisis. Sementara Lewin dan Alport mengatakan bahwa yang terpenting dari kepribadian bukanlah masa lalu tetapi masa kini.

5. PERSON | SITUATION
Dimensi ini menekankan pada proses dimana kepribadian itu terbentuk. Penekanan pada Person berarti kepribadian adalah bentukan dari inner process yang terjadi dalam diri individu, sementara penekanan pada Situation berarti bahwa kepribadian adalah bentukan dari faktor lingkungan sosial dimana individu itu berada. Walaupun demikian ada juga yang menjadikan kedua dimensi itu sebagai dasar pembentukan suatu kepribadian. Fromm & Skinner, misalnya, menekankan pada faktor sosiokultural dalam kepribadian, sementara Sheldon dan Binswanger lebih menekankan pada faktor biologis internal dalam diri individu.

6. HOLISTIC | ANALITIC
Dimensi holistik menyaratkan bahwa suatu tingkah laku hanya dapat dimengerti berdasarkan konteksnya, dan juga segala sesuatu yang dilakukan oleh individu berhubungan dengan fungsi-fungsi fisiologis dan biologisnya. Sementara dimensi analitik berpendapat bahwa suatu tingkah laku bisa saja dipelajari dan didapat secara terpisah dari tingkah laku yang lainnya. Mereka yang beraliran analitik misalnya adalah Lewin dan Binswanger.
7. NORMAL | ABNORMAL
Banyak juga teori kepribadian yang menekankan pada abnormalitas suatu kepribadian. Dengan mempelajari abnormalitas itu maka pemahaman tentang orang normal dapat diperoleh. Perbedaan normal/abnormal dapat dilihat secara kualitatif yaitu melihat seberapa jauh hal-hal patologis dalam kepribadian itu berbeda dari yang normal. Allport dan Cattel, misalnya, menekankan pada orang-orang normal.

TEORI BELAJAR HUMANISTIK

Belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah :
Proses pemerolehan informasi baru,
Personalia informasi ini pada individu.

Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.

Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi dir dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.

Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
(1) suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis.
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

Carl Rogers
Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.
Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy.
Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:
Kognitif (kebermaknaan)
experiential ( pengalaman atau signifikansi)

Guru menghubungan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :
a. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
Merespon perasaan siswa
Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
Menghargai siswa
Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
Tersenyum pada siswa
Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.

Implikasi Teori Belajar Humanistik
a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):
1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
Merumuskan tujuan belajar yang jelas
Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.

Referensi :
Psikologi Belajar: Dr. Mulyati, M.Pd
Psikologi Belajar: Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono
Psikologi Pendidikan: Sugihartono,dkk
Psikologi Pendidikan: Rochman Natawidjaya dan Moein Moesa
Landasan Kependidikan: Prof. Dr. Made Pidarta

Sumber : Trimanjuniarso.wordpress.com

Psikologi Humanistik

Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.

Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga “ dalam aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri.

Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov dengan hasil pemikirannya tentang refleks yang terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa semua perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan.

Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.

Terdapat beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi humanistik. Sumbangan Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok fenomenologi yang mengkaji tentang persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku sejalan dengan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang yang melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.

Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berfikirnya sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan pula bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik. Carl Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasian dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara guru dengan siswa

Berkenaan dengan epistemiloginya, teori-teori humanistik dikembangkan lebih berdasarkan pada metode penelitian kualitatif yang menitik-beratkan pada pengalaman hidup manusia secara nyata (Aanstoos, Serlin & Greening, 2000). Kalangan humanistik beranggapan bahwa usaha mengkaji tentang mental dan perilaku manusia secara ilmiah melalui metode kuantitatif sebagai sesuatu yang salah kaprah. Tentunya hal ini merupakan kritikan terhadap kalangan kognitivisme yang mengaplikasikan metode ilmiah pendekatan kuantitatif dalam usaha mempelajari tentang psikologi.
Sebaliknya, psikologi humanistik pun mendapat kritikan bahwa teori-teorinya tidak mungkin dapat memfalsifikasi dan kurang memiliki kekuatan prediktif sehingga dianggap bukan sebagai suatu ilmu (Popper, 1969, Chalmers, 1999).

Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan client-centered therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau pemberian bantuan kepada klien.
Selain memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini.





Psikologi Behaviorisme (Burrhus Frederic Skinner 1904-1990)

A. Struktur kepribadian

Menurut Skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian (personality) atau diri (self) yang membimbing atau mengarahkan perilaku.

Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya.

Selanjutnya, Skinner menguraikan sejumlah tehnik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Kemudian banyak diantaranya dipelajari oleh social-learning theoritists yang tertarik dalam modeling dan modifikasi perilaku. Tehnik tersebut adalah sebagai berikut (Wulansari & Sujatno, 1997).

1. Pengekangan Fisik ( physical restraints )

2. Bantuan Fisik ( physical aids)

3. Mengubah Kondisi Stimulus (changing the stimulus conditions)

4. Manipulasi Kondisi Emosional (manipulating emotional conditions)

5. Melakukan Respons-respons Lain (performing alternative responses)

6. Menguatkan Diri Secara Positif (positive self-reinforcement).

7. Menghukum Diri Sendiri ( self punishment).

Selanjutnya Skinner membedakan perilaku atas :

1. Perilaku yang alami (innate behavior), atau yang biasa disebut respondent behavior. Yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas.

2. Perilaku Operan (operant behavior), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak jelas atau tidak diketahui, tetapi semata-mata ditimbulkan organisme itu sendiri.

Bagi Skinner, faktor motivational dalam tingkah laku bukan bagian elemen struktural. Dalam situasi yang sama tingkah laku seseorang bisa berbeda-beda kekuatan dan keseringan munculnya. Konsep motivasi yang menjelaskan variabilitas tingkah laku dalam situasi yang konstan bukan fungsi dari keadaan energi, tujuan, dan jenis penyebab sebagainya. Konsep itu secara sederhana dijelaskan melalui hubungan sekelompok respon dengan sekelompok kejadian. Penjelasan mengenai motivasi ini juga berlaku untuk emosi.

B. Kepribadian dan Belajar

Hakikat teori skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk mengubah dawn mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforment), suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni semua tingkah laku dapat dikontrol.

C. Tingkah laku Kontrol Diri

Prinsip dasar pendekatan skinner adalah : Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi oleh variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang mempengaruhi tingkah laku. Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam "self", tetapi bagaimana self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku.

D. Stimulan Aversif

Stimulasi aversif adalah lawan dari stimulant penguatan, sesuatu yang tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan.

"Perilaku yang diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan diulanginya perilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya."

Definisi ini sekaligus menggambarkan bentuk pengkondisian yang dikenal dengan hukuman.

E. Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)

Kondisioning klasik, disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat refleksbawaan

F. Kondisioning Operan (Operant Conditioning)

Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan dengan respon karena respon itu sendiri beroperasi memberi reinsforment. Skinner menyebut respon itu sebagai tingkah laku operan (operant behavior).

Tingkah laku responden adalah tingkah laku otomatis atau refleks, yang dalam kondisioning klasik respon diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya. Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu, tetapi ketika orang melakukannya dia mendapat hadiah. Respon operan itu mendapat reinforcement, sehingga berpeluang untuk lebih sering terjadi. Kondisioning operan tidak tergantung pada tingkah laku otomatis atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik.

B. F. Skinner dengan pandangannya yang radikal, banyak salah dimengerti dan mendapat kritik yang tidak proporsional. Betapapun orang harus mengakui bahwa teori Behaviorisme paling berhasil dalam mendorong penelitian dibidang psikologi dengan pendekatan teoritik lainnya. Berikut lima kritik terpenting terhadap B. F. Skinner.

1. teori skinner tidak menghargai harkat manusia. Manusia bukan mesin otomat yang diatur lingkungan semata. Manusia bukan robot, tetapi organisme yang memiliki kesadaran untuk bertingkah laku dengan bebas dan spontan.

2. gabungan pendekatan nomoterik dan idiografik dalam penelitian dan pengembangan teori banyak menimbulkan masalah metodologis.

3. pendekatan skinner dalam terapi tingkah laku secara umum dikritik hanya mengobati symptom dan mengabaikan penyebab internal mental dawn fisiologik.

4. generalisasi dari tingkah laku merpati mematok makanan menjadi tingkah laku manusia yang sangat kompleks, terlalu luas/ jauh.





Wilhelm Wundt (1832 - 1920)

Wilhelm Wundt dilahirkan di Neckarau pada tanggal 18 Agustus 1832 dan wafat di Leipzig pada tanggal 31 Agustus 1920. Wilhelm Wundt seringkali dianggap sebagai bapak psikologi modern berkat jasanya mendirikan laboratorium psikologi pertama kali di Leipzig. Ia mula-mula dikenal sebagai seorang sosiolog, dokter, filsuf dan ahli hukum. Gelar kesarjanaan yang dimilikinya adalah dari bidang hukum dan kedokteran. Ia dikenal sebagai seorang ilmuwan yang banyak melakukan penelitian, termasuk penelitian tentang proses sensory (suatu proses yang dikelola oleh panca indera).

Pada tahun 1875 ia pindah ke Leipzig, Jerman, dan pada tahun 1879 ia dan murid-muridnya mendirikan laboratorium psikologi untuk pertama kalinya di kota tersebut. Berdirinya laboratorium psikologi inilah yang dianggap sebagai titik tolak berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya (Ilmu Filsafat & Ilmu Faal). Sebelum tahun 1879 memang orang sudah mengenal psikologi, tetapi belum ada orang yang menyebut dirinya sarjana psikologi. Sarjana-sarjana yang mempelajari psikologi umumnya adalah para filsuf, ahli ilmu faal atau dokter. Wundt sendiri asalnya adalah seorang dokter, tetapi dengan berdirinya laboratorium psikologinya, ia tidak lagi disebut sebagai dokter atau ahli ilmu faal, karena ia mengadakan eksperimen-eksperimen dalam bidang psikologi di laboratoriumnya.

Wundt mengabdikan diri selama 46 tahun sisa hidupnya untuk melatih para psikolog dan menulis lebih dari 54.000 halaman laporan penelitian dan teori. Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain: "Beitrage Zur Theorie Der Sines Wahrnemung" (Persepsi yang dipengaruhi kesadaran, 1862), "Grund zuge der Physiologischen Psychologie" (Dasar fisiologis dari gejala-gejala psikologi, 1873) dan "Physiologische Psychologie".

Ivan Pavlov (1849 - 1936)

Ivan Petrovich Pavlov dilahirkan di Rjasan pada tanggal 18 September 1849 dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936. Ia sebenarnya bukanlah sarjana psikologi dan tidak mau disebut sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik. Eksperimen Pavlov yang sangat terkenal di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan. Dalam penelitian tersebut ia melihat bahwa subyek penelitiannya (seekor anjing) akan mengeluarkan air liur sebagai respons atas munculnya makanan. Ia kemudian mengeksplorasi fenomena ini dan kemudian mengembangkan satu studi perilaku (behavioral study) yang dikondisikan, yang dikenal dengan teori Classical Conditioning. Menurut teori ini, ketika makanan (makanan disebut sebagai the unconditioned or unlearned stimulus - stimulus yang tidak dikondisikan atau tidak dipelajari) dipasangkan atau diikutsertakan dengan bunyi bel (bunyi bel disebut sebagai the conditioned or learned stimulus - stimulus yang dikondisikan atau dipelajari), maka bunyi bel akan menghasilkan respons yang sama, yaitu keluarnya air liur dari si anjing percobaan. Hasil karyanya ini bahkan menghantarkannya menjadi pemenang hadiah Nobel. Selain itu teori ini merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviourisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar.

Emil Kraepelin (1856 - 1926)

Emil Kraepelin dilahirkan pada tanggal 15 Pebruari 1856 di Neustrelitz dan wafat pada tanggal 7 Oktober 1926 di Munich. Ia menajdi dokter di Wurzburg tahun 1878, lalu menjadi dokter di rumah sakit jiwa Munich. Pada tahun 1882 ia pindah ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt yang pernah menjadi kawannya semasa mahasiswa. Dari tahun 1903 sampai meninggalnya, ia menjadi profesor psikiatri di klinik psikiatri di Munich dan sekaligus menjadi direktur klinik tersebut. Emil Kraepelin adalah psikiatris yang mempelajari gambaran dan klasifikasi penyakit-penyakit kejiwaan, yang akhirnya menjadi dasar penggolongan penyakit-penyakit kejiwaan yang disebut sebagai Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA). Emil Kraepelin percaya bahwa jika klasifikasi gejala-gejala penyakit kejiwaan dapat diidentifikasi maka asal usul dan penyebab penyakit kejiwaan tersebut akan lebih mudah diteliti. Kraepelin menjadi terkenal terutama karena penggolongannya mengenai penyakit kejiwaan yang disebut psikosis. Ia membagi psikosis dalam dua golongan utama yaitu dimentia praecox dan psikosis manic-depresif. Dimentia praecox merupakan gejala awal dari penyakit kejiwaan yang disebut schizophrenia. Kraepelin juga dikenal sebagai tokoh yang pertama kali menggunakan metode psikologi pada pemeriksaan psikiatri, antara lain menggunakan test psikologi untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan kejiwaan. Salah satu test yang diciptakannya di kenal dengan nama test Kraepelin. Test tersebut banyak digunakan oleh para sarjana psikologi di Indonesia pada era tahun 1980an.

Sigmund Freud (1856 - 1939)

Sigmund Freud dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg (Austria), pada masa bangkitnya Hitler, dan wafat di London pada tanggal 23 September 1939. Ia adalah seorang Jerman keturunan Yahudi. Pada usia 4 tahun ia dan keluarga pindah ke Viena, dimana ia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya. Meskipun keluarganya adalah Yahudi namun Freud menganggap bahwa dirinya adalah atheist.

Semasa muda ia merupakan anak favorit ibunya. Dia adalah satu-satunya anak (dari tujuh bersaudara) yang memiliki lampu baca (sementara yang lain hanya menggunakan lilin sebagai penerang) untuk membaca pada malam hari dan satu-satunya anak yang diberi sebuah kamar dan perabotan cukup memadai untuk menunjang keberhasilan sekolahnya. Freud dikenal sebagai seorang pelajar yang jenius, menguasai 8 (delapan) bahasa dan menyelesaikan sekolah kedokteran pada usia 30 tahun. Setelah lulus ia memutuskan untuk membuka praktek di bidang neurologi.

Pada tahun 1900, Freud menerbitkan sebuah buku yang menjadi tonggak lahirnya aliran psikologi psikoanalisa. Buku tersebut berjudul Interpretation of Dreams yang masih dikenal sampai hari ini. Dalam buku ini Freud memperkenalkan konsep yang disebut "unconscious mind" (alam ketidaksadaran). Selama periode 1901-1905 dia menerbitkan beberapa buku, tiga diantaranya adalah The Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on Sexuality (1905), dan Jokes and Their relation to the Unconscious (1905).

Pada tahun 1902 dia diangkat sebagai profesor di University of Viena dan saat ini namanya mulai mendunia. Pada tahun 1905 ia mengejutkan dunia dengan teori perkembangan psikoseksual (Theory of Psychosexual Development) yang mengatakan bahwa seksualitas adalah faktor pendorong terkuat untuk melakukan sesuatu dan bahwa pada masa balita pun anak-anak mengalami ketertarikan dan kebutuhan seksual. Beberapa komponen teori Freud yang sangat terkenal adalah:

· The Oedipal Complex, dimana anak menjadi tertarik pada ibunya dan mencoba mengidentifikasi diri seperti sang ayahnya demi mendapatkan perhatian dari ibu

· Konsep Id, Ego, dan Superego

· Mekanisme pertahanan diri (ego defense mechanisms)

Istilah psikoanalisa yang dikemukakan Freud sebenarnya memiliki beberapa makna yaitu: (1) sebagai sebuah teori kepribadian dan psikopatologi, (2) sebuah metode terapi untuk gangguan-gangguan kepribadian, dan (3) suatu teknik untuk menginvestigasi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan individu yang tidak disadari oleh individu itu sendiri.

Sejak the Psychoanalytic Society (Perhimpunan Masyarakat Psikoanalisa) didirikan pada tahun 1906, maka muncul beberapa ahli psikologi yang dua diantaranya adalah Alfred Adler dan Carl Jung. Pada tahun 1909 Freud mulai dikenal di seluruh dunia ketika ia melakukan perjalanan ke USA untuk menyelenggarkan Konferensi International pertama kalinya.

Freud dikenal sebagai seorang perokok berat yang akhirnya menyebabkan dia terkena kanker pada tahun 1923 dan memaksanya untuk melakukan lebih dari 30 kali operasi selama kurang lebih 16 tahun. Pada tahun 1933, partai Nazy di Jerman melakukan pembakaran terhadap buku-buku yang ditulis oleh Freud. Dan ketika Jerman menginvasi Austria tahun 1938, Freud terpaksa melarikan diri ke Inggris dan akhirnya meninggal di sana setahun kemudian.

Alfred Binet (1857 - 1911)

Alfred Binet dikenal sebagai seorang psikolog dan juga pengacara (ahli hukum). Hasil karya terbesar dari Alfred Binet di bidang psikologi adalah apa yang sekarang ini dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Sebagai anggota komisi investigasi masalah-masalah pendidikan di Perancis, Alfred Binet mengembangkan sebuah test untuk mengukur usia mental (the mental age atau MA) anak-anak yang akan masuk sekolah. Usia mental tersebut merujuk pada kemampuan mental anak pada saat ditest dibandingkan pada anak-anak lain di usia yang berbeda. Dengan kata lain, jika seorang anak dapat menyelesaikan suatu test atau memberikan respons secara tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diperuntukan bagi anak berusia 8 (delapan) maka ia dikatakan telah memiliki usia mental 8 (delapan) tahun.

Test yang dikembangkan oleh Binet merupakan test intelegensi yang pertama, meskipun kemudian konsep usia mental mengalami revisi sebanyak dua kali sebelum dijadikan dasar dalam test IQ. Pada tahun 1914, tiga tahun setelah Binet wafat, seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan bahwa dengan membagi usia mental anak dengan usia kronological (Chronological Age atau CA), maka akan lebih memudahkan untuk memahami apa yang dimaksud "Intelligence Quotient". Rumus ini kemudian direvisi oleh Lewis Terman, dari Stanford University, yang mengembangkan test untuk orang-orang Amerika. Lewis mengalikan formula yang dikembangkan Stern dengan angka 100. Perhitungan statistik inilah yang kemudian menjadi definisi atau rumus untuk menentukan Intelligensi seseorang: IQ=MA/CA*100. Test IQ inilah yang dikemudian hari dinamai Stanford-Binet Intelligence Test yang masih sangat populer sampai dengan hari ini.

Alfred Adler(1870 - 1937)

Alfred Adler dilahirkan pada tanggal 7 Pebruari 1870 di Viena (Austria) dan wafat pada tanggal 28 Mei 1937 di Aberdeen (Skotlandia). Ia adalah seorang Yahudi yang lahir dari keluarga yang termasuk dalam status sosial ekonomi kelas menengah pada saat itu. Semasa muda Adler mengalami masa-masa yang sangat sulit. Ketika ia berusia 5 tahun ia terkena penyakit pneumonia (radang paru-paru) yang menurut dokter hampir mustahil untuk disembuhkan. Ketika mendengar kabar tersebut, Adler berjanji jika ia bisa sembuh maka ia akan menjadi dokter dan bertekad untuk memerangi penyakit yang mematikan tersebut. Akhirnya pada tahun 1895, setelah dinyatakan sembuh dari penyakitnya, ia benar-benar mewujudkan tekadnya dan berhasil meraih gelar sarjana kedokteran dari University of Vienna. Ia akhirnya dikenal sebagai seorang ahli penyakit dalam. Tahun 1898, ia menulis buku pertamanya yang memfokuskan pada pendekatan kemanusiaan dan penyakit dari sudut pandang individu sebagai pribadi bukan membagi-baginya menjadi gejala, insting, atau dorongan-dorongan. Pada tahun 1902, ia mendapat tawaran kerjasama dari Freud untuk bergabung dalam kelompok diskusi untuk membahas masalah psikopatologi. Adler akhirnya ikut bergabung dan kemudian menjadi pengikut setia Freud, namun hubungan tersebut tidak berlangsung lama. Pada tahun 1907, Adler menulis sebuah paper berjudul "Organ Inferiority" yang menjadi pemicu rusaknya hubungan Freud dengan Adler. Dalam tulisan tersebut Adler mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya mempunyai kelemahan organis. Berbeda dengan hewan, manusia tidak dilengkapi dengan alat-alat tubuh untuk melawan alam. Kelemahan-kelemahan organis inilah yang justru membuat manusia lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya, karena mendorong manusia untuk melakukan kompensasi (menutupi kelemahan). Adler juga tidak sependapat dengan teori psikoseksual Freud. Pada tahun 1911, Adler meninggalkan kelompok diskusi, bersama dengan delapan orang koleganya, dan mendirikan sekolah sendiri. Sejak itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Freud.

Carl Jung (1875 - 1961)

Carl Gustav Jung dilahirkan pada tanggal 26 Juli 1875 di Kesswyl (Switzerland) dan wafat pada tanggal 6 Juni 1961 di Kusnacht (Switzerland). Dimasa kanak-kanak Jung sudah sangat terkesan dengan mimpi, visi supernatural, dan fantasi. Ia menyakini bahwa dirinya memiliki informasi rahasia tentang masa depan dan berfantasi bahwa dirinya merupakan dua orang yang berbeda.

Jung lulus dari fakultas kedokteran di University of Basel dengan spesialisasi di bidang psikiatri pada tahun 1900. Pada tahun yang sama ia bekerja sebagai assistant di rumah sakit jiwa Zurich yang membuatnya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan para pasien schizophrenic yang akhirnya membawa Jung melakukan kontak dengan Freud. Setelah membaca tulisan Freud yang berjudul Interpretation of Dreams, Jung mulai melakukan korespondensi dengan Freud. Akhirnya mereka bertemu di rumah Freud di Vienna tahun 1907. Dalam pertemuan tersebut Freud begitu terkesan dengan kemampuan intelektual Jung dan percaya bahwa Jung dapat menjadi juru bicara bagi kepentingan psikoanalisa karena ia bukan orang Yahudi. Jung juga dianggap sebagai orang yang patut menjadi penerus Freud dan berkat dukungan Freud Jung kemudian terpilih sebagai presiden pertama International Psychoanalytic Association pada tahun 1910. Namun pada tahun 1913, hubungan Jung dan Freud menjadi retak. Tahun berikutnya, Jung mengundurkan diri sebagai presiden dan bahkan keluar dari keanggotaan assosiasi tersebut. Sejak saat itu Jung dan Freud tidak pernah saling bertemu.

John Watson (1878 - 1958)

John Broades Watson dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan wafat di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul "Animal Education". Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.

Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalam psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun 1920-1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen.

John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah "Psychology as the Behaviourist view it" (1913). Menurut Watson dalam beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkahlaku yang nyata saja. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode-metode obyektif dalam psikologi.

Peran Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan: "Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya".

Max Wertheimer (1880 - 1943)

Max Wertheimer dilahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880 dan wafat pada tanggal 12 Oktober 1943 di New York. Max Wertheimer dianggap sebagai pendiri psikologi Gestalt bersama-sama dengan Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka. Max mempelajari imu hukum selama beberapa tahun sebelum akhirnya dia mendapatkan gelar Ph.D. di bidang psikologi. Dia kemudian diangkat menjadi professor dan sempat bekerja di beberapa universitas di Jerman sebelum hijrah ke Amerika Serikat karena terjadi perang di benua Eropa pada tahun 1934. Di Amerika ia bekerja di New School for Research di New York city sampai akhir hayatnya.

Pada tahun 1910, ketika berusia 30 tahun, Max memperlihatkan ketertarikannya untuk meneliti tentang persepsi setelah ia melihat sebuah alat yang disebut "stroboscope" (benda berbentuk kotak yang diberi alat untuk melihat ke dalamkotak tersebut) di toko mainan anak-anak. Setelah melakukan beberapa penelitian dengan alat tersebut, dia mengembangkan teori tentang persepsi yang sering disebut dengan teori Gestalt.

Dalam bukunya yang berjudul "Investigation of Gestalt Theory" (1923), Wertheimer mengemukakan hukum-hukum Gestalt sebagai berikut:

· Hukum Kedekatan (law of proximity): hal-hal yang saling berdekatan dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas.

· Hukum Ketertutupan (law of closure): Hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri.

· Hukum Kesamaan (law of equivalence): hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas.

Henry A. Murray(1893 - 1988)

Henry Alexander Murray dilahirkan di New York pada tanggal 13 Mei 1893 dan meninggal pada tahun 1988. Sama seperti pandangan psikoanalisa, Henry Murray juga berpendapat bahwa kepribadian akan dapat lebih mudah dipahami dengan cara menyelidiki alam ketidaksadaran seseorang (unconscious mind). Murray menjadi professor psikologi di Harvard University dan mengajar disana lebih dari 30 tahun.

Peranan Murray di bidang psikologi adalah dalam bidang diagnosa kepribadian dan teori kepribadian. Hasil karya terbesarnya yang sangat terkenal adalah teknik evaluasi kepribadian dengan metode proyeksi yang disebut dengan "Thematic Apperception Test (TAT)". Test TAT ini terdiri dari beberapa buah gambar yang setiap gambar mencerminkan suatu situasi dengan suasana tertentu. Gambar-gambar ini satu per satu ditunjukkan kepada orang yang diperiksa dan orang itu diminta untuk menyampaikan pendapatnya atau kesannya terhadap gambar tersebut. Secara teoritis dikatakan bahwa orang yang melihat gambar-gambar dalam test itu akan memproyeksikan isi kepribadiannya dalam cerita-ceritanya.

Jean Piaget (1896 - 1980)

Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel (Switzerland) pada tahun 1896 dan meninggal di Geneva dalam usia 84 tahun pada tahun 1981. Pada usia 10 tahun ia sudah memulai karirnya sebagai peneliti dan penulis. Piaget sangat tertarik pada ilmu biology dan ia menulis paper tentang albino sparrow (burung gereja albino) yang semakin membuatnya tertarik untuk mendalami ilmu alam.

Piaget memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1918 di universitas Neuchatel dalam bidang ilmu hewan. Pada tahun 1925 ia mulai menunjukkan minatnya pada bidang filsafat dan pada tahun 1929 ia diangkat menjadi profesor dalam "Scientific Thought" di Jeneva. Ia mulai terjun dalam dunia psikologi pada tahun 1940 dengan menjadi direktur laboratorium psikologi di Universitas Jeneva. Lalu kemudian ia juga terpilih sebagai ketua dari "Swiss Society for Psychologie".

Piaget adalah seorang tokoh yang amat penting dalam bidang psikologi perkembangan. Teori-teorinya dalam psikologi perkembangan yang mengutamakan unsur kesadaran (kognitif) masih dianut oleh banyak orang sampai hari ini. Teori-teori, metode-metode dan bidang-bidang penelitian yang dilakukan Piaget dianggap sangat orisinil, tidak sekedar melanjutkan hal-hal yang sudah terlebih dahulu ditemukan orang lain.

Selama masa jabatannya sebagai profesor di bidang psikologi anak, Piaget banyak melakukan penelitian tentang Genetic Epistemology (ilmu pengetahuan tentang genetik). Ketertarikan Piaget untuk menyelidiki peran genetik dan perkembangan anak, akhirnya menghasilkan suatu mahakarya yang dikenal dengan nama Theory of Cognitive Development (Teori Perkembangan Kognitif).

Dalam teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal. Teori ini tidak hanya diterima secara luas dalam bidang psikologi tetapi juga sangat besar pengaruhnya di bidang pendidikan.

Carl Rogers (1902 - 1987)

Carl Ransom Rogers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla, California, pada tahun 1987. Semasa mudanya, Rogers tidak memiliki banyak teman sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk kamus dan ensiklopedi, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia pernah belajar di bidang agrikultural dan sejarah di University of Wisconsin. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931.

Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal dengan menggunakan metode-metode psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul "The Clinical Treatment of the Problem Child", yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society.

Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien.

Hasil karya Rogers yang paling terkenal dan masih menjadi literatur sampai hari ini adalah metode konseling yang disebut Client-Centered Therapy. Dua buah bukunya yang juga sangat terkenal adalah Client-Centered Therapy(1951) dan On Becoming a Person (1961).

Erik Erikson (1902 - 1994)

Erik Homburger Erikson dilahirkan di Frankfurt, Jerman, pada tahun 1902. Ayahnya adalah seorang keturunan Denmark dan Ibunya seorang Yahudi. Erikson belajar psikologi pada Anna Freud (putri dari Sigmund Freud) di Vienna Psycholoanalytic Institute selama kurun waktu tahun 1927-1933. Pada tahun 1933 Erikson pindah ke Denmark dan disana ia mendirikan pusat pelatihan psikoanalisa (psychoanalytic training center). Pada tahun 1939 ia pindah ke Amerika serikat dan menjadi warga negara tersebut, dimana ia sempat mengajar di beberapa universitas terkenal seperti Harvard, Yale, dan University of California di Berkley.

Erik Erikson sangat dikenal dengan tulisan-tulisannya di bidang psikologi anak. Berangkat dari teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual dari Freud yang lebih menekankan pada dorongan-dorongan seksual, Erikson mengembangkan teori tersebut dengan menekankan pada aspek-aspek perkembangan sosial. Dia mengembangkan teori yang disebut theory of Psychosocial Development (teori perkembangan psikososial) dimana ia membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan.

Beberapa buku yang pernah ditulis oleh Erikson dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, diantaranya adalah: (1) Young Man Luther: A Study in Psychoanalysis and History (1958), (2) Insight and Responsibility (1964), dan Identity: Youth and Crisis (1968).

Burrhus F. Skinner (1904 - 1990)

Burrhus Frederic Skinner dilahirkan di sebuah kota kecil bernama Susquehanna, Pennsylvania, pada tahun 1904 dan wafat pada tahun 1990 setelah terserang penyakit leukemia. Skinner dibesarkan dalam keluarga sederhana, penuh disiplin dan pekerja keras. Ayahnya adalah seorang jaksa dan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Skinner mendapat gelar Bachelor di Inggris dan berharap bahwa dirinya dapat menjadi penulis. Semasa bersekolah memang ia sudah menulis untuk sekolahnya, tetapi ia menempatkan dirinya sebagai outsider (orang luar), menjadi atheist, dan sering mengkritik sekolahnya dan agama yang menjadi panutan sekolah tersebut. Setelah lulus dari sekolah tersebut, ia pindah ke Greenwich Village di New York City dan masih berharap untuk dapat menjadi penulis dan bekerja di sebuah surat kabar.

Pada tahun 1931, Skinner menyelesaikan sekolahnya dan memperoleh gelar sarjana psikologi dari Harvard University. Setahun kemudian ia juga memperoleh gelar doktor (Ph.D) untuk bidang yang sama. Pada tahun 1945, ia menjadi ketua fakultas psikologi di Indiana University dan tiga tahun kemudian ia pindah ke Harvard dan mengajar di sana sepanjang karirnya. Meskipun Skinner tidak pernah benar-benar menjadi penulis di surat kabar seperti yang diimpikannya, ia merupakan salah satu psikolog yang paling banyak menerbitkan buku maupun artikel tentang teori perilaku/tingkahlaku, reinforcement dan teori-teori belajar.

Skinner adalah salah satu psikolog yang tidak sependapat dengan Freud. Menurut Skinner meneliti ketidaksadaran dan motif tersembunyi adalah suatu hal yang percuma karena sesuatu yang bisa diteliti dan diselidiki hanya perilaku yang tampak/terlihat. Oleh karena itu, ia juga tidak menerima konsep tentang self-actualization dari Maslow dengan alasan hal tersebut merupakan suatu ide yang abstrak belaka.

Skinner memfokuskan penelitian tentang perilaku dan menghabiskan karirnya untuk mengembangkan teori tentang Reinforcement. Dia percaya bahwa perkembangan kepribadian seseorang, atau perilaku yang terjadi adalah sebagai akibat dari respond terhadap adanya kejadian eksternal. Dengan kata lain, kita menjadi seperti apa yang kita inginkan karena mendapatkan reward dari apa yang kita inginkan tersebut. Bagi Skinner hal yang paling penting untuk membentuk kepribadian seseorang adalah melalui Reward & Punishment. Pendapat ini tentu saja amat mengabaikan unsur-unsur seperti emosi, pikiran dan kebebasan untuk memilih sehingga Skinner menerima banyak kritik.

Abraham Maslow (1908 - 1970)

Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Masa muda Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena hubungannya yang buruk dengan kedua orangtuanya. Semasa kanak-kanak dan remaja Maslow merasa bahwa dirinya amat menderita dengan perlakuan orangtuanya, terutama ibunya.

Keluarga Maslow amat berharap bahwa ia dapat meraih sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang Hukum tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934.

Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:

Kebutuhan untuk aktualisasi diri

Kebutuhan untuk dihargai

Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi

Kebutuhan akan rasa aman dan tentram

Kebutuhan fisiologis / dasar

Hirarki Kebutuhan Maslow

Hans Eysenck (1916 - 1997)

Hans Jurgen Eysenck dilahirkan di Berlin, Jerman, pada tahun 1916. Kedua orangtuanya adalah selebritis yang sangat berharap bahwa Eysenck kelak dapat menjadi seorang aktor. Pada usia 2 tahun Eysenck terpaksa dibesarkan oleh neneknya karena orangtuanya bercerai. Setelah tamat SMU Eysenck memutuskan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri karena ia merasa tidak senang dengan Regim Nazi. Ia memang meninggalkan Jerman dan akhirnya menetap di Inggris, dimana ia memperoleh gelar Ph.D. di bidang psikologi dari University of London. Sejak saat itu ia telah menulis lebih dari 50 buku dan 600 artikel penelitian dengan berbagai topik. Oleh sebab itu, oleh para pengkritiknya ia sering dianggap sebagai seorang yang serba bisa dan ahli membuat teori (meskipun banyak juga teori yang didukung oleh hasil penelitiannya). Eysenck adalah seorang ahli teori biologi dan hal ini membuatnya terinspirasi untuk melakukan penelitian pada komponen-komponen biologis dari kepribadian. Dia mengatakan bahwa intelegensi merupakan sesuatu yang diturunkan sejak lahir. Ia juga memperkenalkan konsep ekstroversi (introversi-ekstraversi) dan neurotisme (neurotik-stabil) sebagai dua dimensi dasar kepribadian. Dia percaya bahwa karakteristik kepribadian dapat diuraikan berdasarkan dua dimensi tersebut, yang disebutnya dengan "Supertraits".

Albert Bandura (1925 - )
Albert Bandura dilahirkan pada tahun 1925 di Alberta, Canada. Dia memperoleh gelar Master di bidang psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doktor (Ph.D). Setahun setelah lulus, ia bekerja di Standford University.

Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory), salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Albert Bandura menjabat sebagai ketua APA pada tahun 1974 dan pernah dianugerahi penghargaan Distinguished Scientist Award pada tahun 1972




Psikologi Kepribadian - Document Transcript

  1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seandainya dalam semua segi, setiap orang sama seperti kebanyakan atau bahkan semua orang lain, kita bisa tahu apa yang diperbuat seseorang dalam situasi tertentu berdasarkan pengalaman diri kita sendiri. Kenyataannya, dalam banyak segi, setiap orang adalah unik, khas. Akibatnya yang lebih sering terjadi adalah kita mengalami salah paham dengan teman di kampus, sejawat di kantor tetangga atau bahkan dengan suami/istri dan anak-anak dirumah. Kita terkejut oleh tindakan di luar batas yang dilakukan oleh seseorang yang biasa dikenal alim dan saleh, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, kita membutuhkan sejenis kerangka acuan untuk memahami dan menjelaskan tingkah laku diri sendiri dan orang lain.kita harus memahami defenisi dari kepribadian itu, bagaimana kepribadan itu terbentuk. Selain itu kita membutuhkan teori-teori tentang tingkah laku, teori tentang kepribadian agar tembentuk suatu kepribadian yang baik. Sehingga gangguan-gangguan yang biasa muncul pada kepribadian setiap individu dapat dihindari. B. Rumusan Masalah Adapun rumsan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu: 1. Bagaimana konsep-konsep kepribadian? 2. Menjelaskan jenis-jenis gangguan kepribadian. C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah 1. Untuk memahami konsep-konsep kepribadian. 1
  2. 2. Untuk memahami jenis-jenis gangguan kepribadian. D. Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan makalah ini, yaitu: 1. Pendahuluan 2. Pembahasan 3. Penutup 2
  3. BAB II PEMBAHASAN A. Defenisi Kepribadian Kata “kepribadian” (personality) sesungguhnya sesungguhnya berasal dari kata latin: pesona. Pada mulanya kata personaini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman romawi dalam memainkan perannya. Lambat laun, kata persona (personality) berubah menjai satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok masyarakat, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial yang diterimanya. Kepribadian (Allport, 1971) adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem- sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Karena tiap-tiap kepribadian adalah unik, maka sukar sekali dibuat gambaran yang umum tentang kepribadian. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengenal seseorang dengan mengetahui struktur kepribadiannya. Struktur kepribadian ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap sejarah hidup, cita- cita, dan persoalan-persoalan yang dihadapi seseorang. B. Pembentukan Kepribadian Mengenai pengalaman-pengalaman yang ikut membentuk kepribadian, kita dapat membedakannya dalam dua golongan : 1. Pengalaman yang umum, yaitu yang dialami oleh tiap-tiap individu dalam kebudayaan tertentu. Pengalaman ini erat hubungannya dengan fungsi dan peranan seseorang dalam masyarakat. Misalnya, sebagai laki-laki atau wanita seseorang mempunyai hak dan kewajiban tertentu. Beberapa dari peran itu 3
  4. dipilih sendiri oleh orang yang bersangkutan tetapi masih tetap terikat pada norma-norma masyarakat, misalnya jabatan atau pekerjaan. Meskipun demikian, kepribadian seseorang tidak dapat sepenuhnya diramalkan atau dikenali hanya berdasarkan pengetahuan tentang struktur kebudayaan dimana orang itu hidup. Hal ini disebabkan karena : a. Pengaruh kebudayaan terhadap seseorang tidaklah sama karena medianya (orang tua, saudara, media massa dan lain-lain) tidaklah sama pula pada setiap orang. Setiap orang tua atau media massa mempunyai pandangan dan pendapatnya sendiri sehingga orang-orang yang menerima pandangan dan pendapat yang berbeda-beda itu akan berbeda-beda pula pendiriannya. b. Tiap individu mempunyai pengalaman-pengalaman yang khusus, yang terjadi pada dirinya sendiri. 2. Pengalaman yang khusus, yaitu yang khusus dialami individu sendiri. Pengalaman ini tidak tergantung pada status dan peran orang yang bersangkutan dalam masyarakat. Pengalaman-pengalaman yang umum maupun yang khusus di atas memberi pengaruh yang berbeda-beda pada tiap individu-individu itu pun merencanakan pengalaman-pengalaman tersebut secara berbeda-beda pula sampai akhirnya ia membentuk dalam dirinya suatu stuktur kepribadian yang tetap (permanen). Proses integrasi pengalaman-pengalaman ke dalam kepribadian yang makin lama makin dewasa, disebut proses pembentukan identitas diri. Proses pembentukan identitas diri harus melalui berbagai tingkatan. Salah satu tingkat yang harus dilalui adalah identifikasi, yaitu dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, misalnya dengan ayah, ibu, kakak, saudara, guru, dan sebagainya. Pada masa remaja, tahap identifikasi ini dapat menyebabkan kebingungan dan kekaburan akan peran sosial, karena remaja-remaja cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan beberapa tokoh sekaligus, misalnya dengan ayahnya, bintang film kesayangannya, tokoh politik favoritnya dan sebagainya. 4
  5. Kalau kekaburan akan peranan sosial ini tidak dapat dihapuskan sampai remaja itu menjadi dewasa, maka besar kemungkinannya ia akan menderita gangguan- gangguan kejiwaan pada masa dewasanya. Karena itu penting sekali diusahakan agar remaja dapat menentukan sendiri identitas dirinya dan berangsur-angsur melepaskan identifikasinya terhadap orang-orang lain untuk akhirnya menjadi dirinya sendiri. C. Teori-Teori Kepribadian Ada empat teori kepribadian utama yang satu sama lain tentu saja berbeda, yakni teori kepribadian psikoanalisis, teori-teori sifat (trait), teori kepribadian behaviorisme, dan teori psikoligi kognitif. 1. Teori Kepribadian Psikoanalisis Dalam mencoba mamahami sistem kepribadian manusia, Freud membangun model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego, dan superego. Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan segera impuls biologis; ego mematuhi prinsip realita, menunda pemuasan sampai bisa dicapai dengan cara yang diterima masyarakat, dan superego (hati nurani;suara hati) memiliki standar moral pada individu. Jadi jelaslah bahwa dalam teori psikoanalisis Freud, ego harus menghadapi konflik antara id ( yang berisi naluri seksual dan agresif yang selalu minta disalurkan) dan super ego (yang berisi larangan yang menghambat naluri-naluri itu). Selanjutnya ego masih harus mempertimbangkan realitas di dunia luar sebelum menampilkan perilaku tertentu. 5
  6. Namun, dalam psikoanalisis Carl Gustav Jung, ego bukannya menghadapi konflik antara id dan superego, melainkan harus mengelola dorongan-dorongan yang datang dari ketidak sadaran kolektif (yang berisi naluri-naluri yang diperoleh dari pengalaman masa lalu dari masa generasi yang lalu) dan ketidaksadaran pribadi yang berisi pengalaman pribadi yang diredam dalam ketidaksadaran. Berbeda dengan Freud, Jung tidak mendasarkan teorinya pada dorongan seks. Bagi erikson, misalnya meskipun ia mengakui adanya id, ego, dan superego, menurutnya, yang terpenting bukannya dorongan seks dan bukan pula koflik antara id dan superego. Bagi Erikson, manusia adalah makhluk rasional yang pikiran, perasaan, dan perilakunya dikendalikan oleh ego. Jadi ego itu aktif, bukan pasif seperti pada teori freud, dan merupakan unsur utama dari kepribadian yang lebih banyak dipengarihi oleh faktor sosial daripada dorongan seksual. 2. Teori-Teori Sifat (Trait Theories) Teori sifat ini dikenal sebagai teori-teori tipe (type theories) yang menekankan aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau sifat- sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah laku relatif tetap dari situasi ke situasi. Allport membedakan antara sifat umum (general trait) dan kecenderungan pribadi (personal disposition). Sifat umum adalah dimensi sifat yang dapat membandingkan individu satu sama lainnya. Kecenderungan pribadi dimaksudkan sebagai pola atau konfigurasi unik sifat-sifat yang ada dalam diri individu. Dua orang mungkin sama-sama jujur, namun berbeda dalam hal kejujuran berkaitan dengan sifat lain. Orang pertama, karena peka terhadap perasaan orang lain, kadang-kadang menceritakan “kebohongan 6
  7. putih” bagi orang ini, kepekaan sensitivitas adalah lebih tinggi dari kejujuran. Adapun orang orang kedua menilai kejujuran lebih tinggi, dan mengatakan apa adanya walaupun hal itu melukai orang lain. Orang mungkin pula memilki sifat yang sama, tetapi dengan motif berbeda. Seseorang mungkin berhati-hati karena ia takut terhadap pendapat orang lain, dan orang lain mungkin hati-hati karena mengekspresikan kebutuhannya untuk mempertahankan keteraturan hidup. Termasuk dalam teori-teori sifat berikutnya adalah teori-teori dari Willim Sheldom. Teori Sheldom sering digolongkan sebagai teori topologi. Meskipun demikian ia sebenarnya menolak pengotakkan menurut tipe ini. Menurutnya, manusia tidak dapat digolongkan dalam tipe ini atau tipe itu. Akan tetapi, setidak-tidaknya seseorang memiliki tiga komponen fisik yang berbeda menurut derajat dan tingkatannya masing-masing. Kombinasi ketiga komponen ini menimbulkan berbagai kemungkinan tipe fisik yang isebutnya sebagai somatotipe. Menurut Sheldom ada tiga komponen atau dimensi temperamental adalah sebagai berikut : a. Viscerotonia. Individu yang memiliki nilai viscerotonia yang tinggi, memiliki sifat-sifat, antara lain suka makan enak, pengejar kenikmatan, tenang toleran, lamban, santai, pandai bergaul. b. Somatotonia. Individu dengan sifat somatotonia yang tinggi memiliki sifat- sifat seperti berpetualang dan berani mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan aktivitas fisik yang menantang, agresif, kurang peka dengan perasaan orang lain, cenderung menguasai dan membuat gaduh. c. Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai cerebretonia dikatakan bersifat tertutup dan senang menyendiri, tidak menyukai keramaian dan takut kepada orang lain, serta memiliki kesadaran diri yang tinggi. Bila sedang di rundung masalah, Ia memiliki reaksi yang cepat dan sulit tidur. 3. Teori Kepribadian Behaviorisme 7
  8. Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu poin yang faktor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama-sama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut. Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya. Selanjutnya, Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Tekhnik tersebut antara lain adalah sebagai berikut : 1) Pengekangan fisik (psycal restraints) Menurut skinner, kita mengntrol perilaku melalui pengekangan fisik. Misalnya, beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan kesalahan orang lain. Orang kadang-kadang melakukannya dengan bentuk lain, seperti berjalan menjauhi seseorang yang tealh menghina ita agar tidak kehilangan kontrol dan menyerang orang tersebut secara fisik. 2) Bantuan fisik (physical aids) Kadang-kadang orang menggunakan obat-obatan untuk mengontrol perilaku yang tidak dinginkan. Misalnya, pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak mengatuk saat menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik bisa juga digunakan untuk memudahkan perilaku tertentu, yang bisa dilihat pada orang yang memiliki masalah penglihatan dengan cara memakai kacamata. 3) Mengubah kondisi stimulus (changing the stimulus conditions) 8
  9. Suatu tekhnik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggunggung jawab. Misalnya, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari hadapannya sehingga dapat mengekang diri sendiri. 4) Memanipulasi kondisi emosional (manipulating emotional conditions) Skinner menyatakan terkadang kita mengadakan perubahan emosional dalam diri kita untuk mengontrol diri. Misalnya, beberapa orang menggunakan tekhnik meditasi untuk mengatasi stess. 5) Melakukan respons-respons lain (performing alternativeresponses) Menurut Skinner, kita juga sering menahan diri dari melakukan perilaku yang membawa hukuman dengan melakukan hal lain. Misalnya, untuk menahan diri agar tidak menyerang orang yang sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka. 6) Menguatkan diri secara positif (positif self-reinforcement) Salah satu teknik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku menurut Skinner, adalah positive self-reinforcement. Kita menghadiahi diri sendiri atas perilaku yang patut dihargai. Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri karena telah belajar keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan menonton film yang bagus. 7) Menghukum diri sendiri (self punishment) Akhirnya, seseorang mengkin menghukum diri sendiri karena gagal mencapai tujuan diri sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa menghukum dirinya sendiri karena gagal melakukan ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali dengan giat. 4. Teori Psikologi Kognitif Menurut para ahli, teori psikologi kognitif dapat dikatakan berawal dari pandangan psikologi Gestalt. Mereka berpendapat bahwa dalam memersepsi 9
  10. lingkungannya, manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada apa yang diterima dari penginderaannya, tetapi masukan dari pengindraan itu, diatur, saling dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, dan selanjutnya dijadikan awal dari suatu perilaku. Pandangan teori kognitif menyatakan bahwa organisasi kepribadian manusia tidak lain adalah elemen-elemen kesadaran yang satu sama lain saling terkait dalam lapangan kesadaran (kognisi). Dalam teori ini, unsur psikis dan fisik tidak dipisahkan lagi, karena keduanya termasuk dalam kognisi manusia. Bahkan, dengan teori ini dimungkinkan juga faktor-faktor diluar diri dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologis atau lapangan kesadaran seseorang. D. Tipe-Tipe Kepribadian Pada dasarnya setisp orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Penelitian tentang kepribadian manusia dilakukan para ahli sejak dulu kala. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya. 1) Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya, sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga. 2) Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah berseri-seri, periang atau selalu gembira, dan bersikap optimistis. 3) Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang- orang seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah. 10
  11. 4) Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang bertipe ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif. C.G. Jung, seorang ahli penyakit jiwa dari Swiss, membuat pembagian tipe manusia dengan cara lain lagi. Ia menyatakan bahwa perhaian manusia tertuju pada dua arah, yakni keluar dirinya yang disebut extrovert, dan kedalam dirinya yang disebut introvert. Jadi, menurut jung tipe manusia bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu : 1) Tipe extrovert, yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, kepada orang-orang lain dan kepada masyarakat. 2) Tipe introvert, orang-orang yang perhatiannya lebih mengarah pada dirinya. Orang yang tergolong tipe extrovert mempunyai sifat-sifat: berhati terbuka, lancar dalam pergaulan, ramah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali. Mereka mudah memegaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungannya. Adapun orang-orang yang tergolong introvert memiliki sifat-sifat : kurang pandai bergaul, pendiam, sukar diselami batinnya, suka mnyendiri, bahkan sering takut kepada orang lain. Kretschmer, ahli penyakit jiwa berkebangsaan Jerman, mengemukakan adanya hubungan yang erat antara tipe tubuh dengan sifat dan wataknya. Ia memebagi manusia dalam empat golongan menurut tipe atau bentuk tubuhnya masing-masing, yaitu berikut ini : 1) Atletis, dengan ciri-ciri tubuh: besar, berotot kuat, kekar dan tegap, berdada lebar. 2) Astenis, dengan ciri-ciri: tinggi, kurus, tidak kuat, bahu sempit, lengan, dan kaki kecil. 3) Piknis, dengan ciri-ciri: bulat, gemuk, pendek, muka bulat, leher pejal. 4) Displastis, merupakan bentuk tubuh campuran dari ketiga tipe diatas. 11
  12. Tipe watak orang yang berbentuk atletis dan astenis adalah schizothim, yang menurut Kretschmer mempunyai sifat-sifat, antara lain : sulit bergaul, mempunyai kebiasaan yang tetap, sukar menyesuaikan diri dengan situasi baru, kelihatan sombong, egoistis dan bersifat ingin berkuasa, kadang-kadang optimis, kadang pula pesimis, selalu berpikir terlebih dahulu masak-masak sebelum bertindak. Lain halnya dengan orang yang memiliki bentuk tubuh piknis, atau tipe wataknya sering disebut siklithim. Sifat orang-orang ini adalah mudah bergaul, suka humor, mudah berubah-ubah stemming-nya, mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang baru, lekas memaafkan kesalahan orang lain, tetapi kurang setia, dan tidak konsekuen. Menurut teori Sheldon, manusia bisa digolongkan menjadi tiga macam tipe yaitu : a. Tipe Endomorp Menurut Sheldon, orang yang komponen endomorp-nya tinggi, sedangkan kedua komponen lainnya rendah, ditandai oleh alat-alat dalam dan seluruh sistem digestif (yang berasal dari endoderm) memegang peranan penting. Sheldom menyebut tipe endomorph dengan kecenderungan pada kebulatan, keluwesan, kehalusan, dan gemuknya tubuh, serta tangan-kaki yang lembut dan kecil. b. Tipe Mesomorph Dalam pandangan Sheldon, orang yang bertipe mesomorph, komponen mesomorphnya tinggi, sedangkan komponen lainnya lagi rendah. Karena itu, bagian-bagian tubuhnya yang berasal dari mesoderm relatif berkembang lebih baik ketimbang yang lain-lain; misalnya: otot-ototnya dominan, pembuluh- pembuluh darah kuat, jantung juga dominan. Orang tipe ini punya kecenderungan kokoh, keras, otot tampak bersegi-segi, tahan sakit. Termasuk pada golongan tipe ini, misalnya, para olahragawan, pengelana, dan tentara. c. Tipe Ectomorph 12
  13. Orang-orang yang termasuk pada golongan tipe ectomorph ini adalah organ- organ mereka berasal dari ectoderm yang terutama berkembang, yaitu kulit, sistem saraf. Kecenderungan tipe entomorph adalah pada tangan dan kaki yang lurus, tubuhnya tampak lemah dan langsing, jangkung, dada pipih, dan otot- otot hampir tidak tampak berkembang. E. Pengukuran-Pengukuran Kepribadian Sifat kepribadian biasa diukur melalui angka rata-rata pelaporan dari (self- report)kuesioner kepribadian (untuk sifat khusus) atau penelusuran kepribadian seutuhnya (personality inventory, serangkaian instrumen yang menyingkap sejumlah sifat). Ada beberapa macam cara untuk mengukur atau menyelidiki kepribadian. Berikut ini adalah beberapa diantaranya : 1. Observasi Direct Observasi direk berbeda dengan observasi biasa. Observasi direk mempunyai sasaran yang khusus , sedangkan observasi biasa mengamati seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu saat dapat diperkirakan munculnya indikator dari ciri-ciri yang hendak diteliti, sedangkan observasi biasa mungkin tidak merencanakan untuk memilih waktu. Observasi direct diadakan dalam situasi terkontrol, dapat diulang atau dapat dibuat replikasinya. Misalnya, pada saat berpidato, sibuk bekerja, dan sebagainya.Ada tiga tipe metode dalam observasi direk yaitu: a. Time Sampling Method Dalam time sampling method, tiap-tiap subjek diselidiki pada periode waktu tertentu. Hal yang diobservasi mungkin sekadar muncul tidaknya respons, atau aspek tertentu. b. Incident Sampling Method 13
  14. Dalam incident sampling method, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku dalam berbagai situasi. Laporan observasinya mungkin berupa catatan-catatan dari Ibu tentang anaknya, khusus pada waktu menangis, pada waktu mogok makan, dan sebgainya. Dalam pencatatan tersebut hal- hal yang menjadi perhatian adalah tentang intensitasnya, lamanya, juga tentang efek-efek berikut setelah respons. c. Metode Buku Harian Terkontrol Metode ini dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tingkah laku yang khusus hendak diselidiki oleh yang bersangkutan sendiri. Misalnya mengadakan observasi sendiri pada waktu sedang marah. Syarat penggunaan metode ini, antara lain, bahwa peneliti adalah orang dewasa yang cukup inteligen dan lebih jauh lagi adalah benar-benar ada pengabdian pada perkembangan ilmu pengetahuan. 2. Wawancara (Interview) Menilai kepribadian dengan wawancara (interview) berarti mengadakan tatap muka dan berbicara dari hati ke hati dengan orang yang dinilai. Dalam psikologi kepribadian, orang mulai mengembangkan dua jenis wawancara, yakni: a. Stress interview Stress interview digunakan untuk mengetahui sejauh mana seseorang dapat bertahan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu emosinya dan juga untuk mengetahui seberapa lama seseorang dapat kembali menyeimbangkan emosinya setelah tekanan-tekanan ditiadakan. Interviewer ditugaskan untuk mengerjakan sesuatu yang mudah, kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih sukar. b. Exhaustive Interview 14
  15. Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat lama; diselenggarakn non-stop. Cara ini biasa digunakan untuk meneliti para tersangka dibidang kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf ketiga. 3. Tes proyektif Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes proyektif. Orang yang dinilai akan memprediksikan dirinya melalui gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes proyektif pada dasarnya memberi peluang kepada testee (orang yang dites) untuk memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan; tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah. Jika kepada subjek diberikan tugas yang menunut penggunaan imajinasi, kita dapat menganalisis hasil fantasinya untuk menguur cara dia merasa dan berpikir. Jika melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya, memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang kreatif. Jenis yang termasuk tes proyektif adalah: a. Tes Rorschach Tes yang dikembangkan oleh seorang dkter psikiatrik Swiss, Hermann Rorschach, pada tahun 1920-an, terdiri atas sepuluh kartu yang masing- masing menampilkan bercak tintan yang agak kompleks. Sebagian bercak itu berwarna; sebagian lagi hitam putih. Kartu-kartu tersebut diperlihatkan kepada mereka yang mengalami percobaan dalam urutan yang sama. Mereka ditugaskan untuk menceritakan hal apa yang dilihatnya tergambar dalam noda-noda tinta itu. Meskipun noda-noda itu secara objektif sama bagi semua peserta, jawaban yang mereka berikan berbeda satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mereka yang mengalami percobaan itu memproyeksikan sesuatu dalam noda-noda itu. Analisis dari sifat jawaban yang diberikan peserta itu memberikan petunjuk mengenai susunan kepribadiannya. b. Tes Apersepsi Tematik (Thematic Apperception Test/TAT) 15
  16. Tes apersepsi tematik atau Thematic Apperception Test (TAT), dikembangkan di Harvard University oleh Hendry Murray pada tahun 1930-an. TAT mempergunakan suatu seri gambar-gambar. Sebagian adalah reproduksi lukisan-lukisan, sebagian lagi kelihatan sebagai ilustrasi buku atau majalah. Para peserta diminta mengarang sebuah cerita mengena tiap-tiap gambar yang diperlihatkan kepadanya. Mereka diminta membuat sebuah cerita mengenai latar belakang dari kejadian yang menghasilkan adegan pada setiap gambar, mengenai pikiran dan perasaan yang dialami oleh orang-orang didalam gambar itu, dan bagaimana episode itu akan berakhir. Dalam menganalisis respon terhadap kartu TAT, ahli psikologi melihat tema yang berulang yang bisa mengungkapkan kebutuhan, motif, atau karakteristik cara seseorang melakukan hubungan antarpribadinya. 4. Inventori Kepribadian Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk melaporkan reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuesioner ini mirip wawancara terstruktur dan ia menanyakan pertanyaan yang sama untuk setiap orang, dan jawaban biasanya diberikan dalam bentuk yang mudah dinilai, seringkali dengan bantuan komputer. Menurut Atkinson dan kawan-kawan, investori kepribadian mungkin dirancang untuk menilai dimensi tunggal kepribadian (misalnya, tingkat kecemasan) atau beberapa sifat kepribadian secara keseluruhan. Investori kepribadian yang terkenal dan banyak digunakan untuk menilai kepribadian seseorang ialah: (a) Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), (b) Rorced-Choice Inventories, dan (c) Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament Scale). a. Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) MMPI terdiri atas kira-kira 550 pernyataan tentag sikap, reaksi emosional, gejala fisik dan psikologis, serta pengalaman masa lalu. Subjek menjawab tiap pertanyaan dengan menjawab “benar”, “salah”, atau “tidak dapat mengatakan”. Pada prinsipnya, jawaban mendapat nilai menurut 16
  17. kesesuaiannya dengan jawaban yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki berbagai macam masalah psikologi. MMPI dikembangkan guna membantu klinis dalam mendiagnosis gangguan kepribadian. Para perancang tes tidak menentukan sifat mengukurnya, tetapi memberikan ratusn pertanyaan tes untuk mengelompokkan individu. Tiap kelompok diketahui berbeda dari normalnya menurut kriteria tertentu. Kelompok kriteria terdiri atas individu yang telah dirawat dengan diagnosis gangguan paranoid. Kelompok kontrol terdiri atas orang yang belum pernah didiagnosis menderita masalah psikiatrik, tetapi mirip dengn kelompok kriteria dalah hal usia, jenis kelamin, status sosioekonomi, dan variabel penting lain. b. Rorced-Choice Inventories Rorced-Choice Inventories atau Inventori Pilihan-Paksa termasuk klasifikasi tes yang volunter. Suatu tes dikatakan volunter bila subjek dapat memilih pilihan yang lebih disukai, dan tahu bahwa semua pilihan itu benar, tidak ada yang salah (Muhadjir,1992). Subjek, dalam hal ini, diminta memilih pilihan yang lebih disukai, lebih sesuai, lebih cocok dengan minatnya, sikapnya, atau pandangan hidupnya. c. Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament Scale) H-W Temperament Scale dikembangkan dari teori kepribadian Rosanoff (Muhadjir, 1992). Menurut teori ini, kepribadian memiliki enam komponen, yang lebih banyak bertolak dari keragaman abnomal, yaitu: 1) Schizoid Autistik, mempunyai tendensi tak konsisten, berpikirnya lebih mengarah pada khayalan. 2) Schizoid Paranoid, mempunyai tendensi tak konsisten, dengan angan bahwa dirinya penting. 3) Cycloid Manik, emosinya tidak stabil dengan semangat berkobar. 4) Cycloid Depress, emosinya tak stabil dengan retardasi dan pesimisme. 17
  18. 5) Hysteroid, ketunaan watak berbatasan dengan tendensi kriminal. 6) Epileptoid, dengan antusiasme dan aspirasi yang bergerak terus. H-W Temperament Scale tersusun dalam sejumlah item yang berfungsi untuk memilahkan kelompok yang patologik dari kelompok penderita hysteroid, misalnya, diasumsikan memiliki mental kriminal. F. Gangguan Kepribadian Gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan yang timbul pada masa kanak-kanak, masa remaja, dan berlanjut pada masa dewasa. Keadaan ini merupakan pola perilaku yang tertanam dalam dan berlangsung lama, muncul sebagai respon yang kaku terhadap rentangan situasi pribadi dan sosial yang luas. Penggolongan atau klasifikasi gangguan kepribadian bermacam-macam, yaitu: a. Kepribadian Paranoid Kepribadian paranoid adalah gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol. Orang lain selalu dilihat sebagai agressor, ingin merugikan, ingin menyakiti, ingin mencelakai, membahayakan, dan sebagainya, sehingga ia bersikap sebagai pemberontak untuk mempertahankan harga dirinya. Sering ia mengancam, memberontak, menolak, membuat keterangan yang tak masuk akal tentang kesalahan-kesalahannya. Sering ia bersikap apriori, memvonis sesuatu tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu, tanpa dukungan data yang akurat, melemparkan tanggung jawab dan kesalahannya pada orang lain. Penderita umumnya ditinggalkan teman-temannya dan mendapatkan banyak musuh. Gangguan kepribadian paranoid dibagi dua, yaitu: - Kepribadian yang mudah tersinggung, bereaksi terhadap pengalaman sehari-hari secara berlebihan dengan rasa menyerah dan rendah diri, serta cenderung menyalahkan orang lain tentang pengalamannya itu. 18
  19. - Kepribadian yang lebih agresif, kasar, serta sangat peka terhadap apa yang dianggap haknya. Cepat tersinggun bila haknya dilanggar dan sangat gigih dalam mempertahankan haknya tersebut. Persamaan kedua kelompok tersebut adalah sifat curiga yang berlebihan, cepat merasakan bahwa sesuatu itu tertuju pada dirinya dan adanya negatif, serta mudah sekali tersinggung. b. Kepribadian Afektif/Siklotim Ciri utama dari kepribadian siklotim adalah keadaan perasaan dan emosinya yang berubah-ubah antara depresi dan euforia. Penderita mungkin berhaasil menarik banyak teman karena sifatnya yang ramah, gembira, semangat, hangat, tetapi dikenal pula sebagai orang yang tak dapat diramalkan. Dalam keadaan depresi, penderita dapat menjadi sangat cemas, khawatir, pesimis, bahkan nihilistik. c. Kepribadian Skizoid Sifat-sifat kepribadian ini adalah pemalu, perasa, pendiam, suka menyendiri, menghindari kontak sosial dengan orang lain. Ciri utamanya adalah cara menyesuaikan diri dan mempertahankan diri ditempuh dengan menarik diri, mengasingkan diri, dan juga sering berperilaku aneh (ekstrinsik). Pemikirannya autistik (hidup dalam dunianya sendiri), melamun berlebihan, dan ketidamampuan menyatakan rasa permusuhan. d. Kepribadian Eksplosif Ciri utama tipe ini adalah diperlihatkannya sifat tertentu yang lain dari perilakunya sehari-hari, yaitu ledakan-ledakan amarah dan agresivitas, sebagai reaksi terhadap stres yang dialaminya (walaupun mungkin stresnya sangat kecil). Segera sesudah itu biasanya ia menyesali perbuatannya. e. Kepribadian Anankastik 19
  20. Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, pemalu, disertai dengan pengawasan diri yang tinggi. Orangnya tdak kompromis serta sangat patuh (bahkan berlebihan) pada nora-norma, etika, dan moral. Orang dengan kepribadian ini sering terlambat unutk menikah, karena tuntutannya terlalu tinggi dan takut/ragu-ragu dalam mengambil keputusan. f. Kepribadian Histerik Ciri utama kepribadian ini adalah sombong, egosentrik, tidak sabilnya emosi, suka menarik perhatian denga afek yang labil, sering berdusta dan menunjukkan pseudologika fantastika (menceritakan secara luas, terperinci, dan kelihatan masuk akal padahal tanpa dasar fakta atau data. Ia dapat menyatakan perasaannya secara tepat dan sering disertai dengan gerakan badaniah dalam berkomunikasi. g. Kepribadian Astenik Ciri utamanya hidup tidak bergairah, lemas, lesu, letih, lemah, tak ada tenaga sepanjang kehidupannya. Orangnya tidak tahan terhadap stres hidup yang normal dalam kehidupan sehari-hari. Vitalitas dan emosionalitasnya sangat rendah. Terdapat abulia atau kurang kemauan dan anhedonia (kurang mampu menikmati sesuatu). h. Kepribadian Anti Sosial Ciri utamanya ialah bahwa perilakunya selalu menimbulkan konflik dengan ornag lain atau lingkungannya. Tidak loyal pada kelompok dan norma-norma sosial, tidak toleran terhadap kekecewaan atau frustasi, selalu menyalahkan ornag lain dengan rasionalisasi. Ia egosentris, idka bertangung jawab, impulsif, agrsif, kebal terhadap rasa sakit, dan idak mampu belajar dari pengalaman ataupun hukuman yang diberikan. i. Kepribadian Pasif-Agresif Tipe ini dibagi menjadi dua, yaitu: 20
  21. - Kepribadian pasif dependen, orang dengan tipe kepribadian ini selalu berpikir, merasa, dan bertindak bahwa kebutuhannya akan ketergantungannya itu dapat dipenuhi scara menakjubkan. - Kepribadian pasif agresif, orang dengan tipe ini merasa bahwa kebutuhan akan ketergantungan tidak pernah terpenuhi. Ia menunjukkan penangguhan dan sikap keras agar diterima dengan murah hati apa yang diharapkannya degan sangat. Tipe kepribadian ini ditandai dengan sifat pasif dan agresif. Agresifitas dapat dinyatakan secara pasif dengan cara bermuka masam, malas, menyabot, dan keras kepala. Perilaku ini merupakan pencerminan dari rasa permusuhan yang dinyatakan secara tertutup, atau rasa tidak puas terhadap seseorang/sesuatu yang kepadanya ia sangat menggantungkan dirinya. j. Kepribadian Inadequat Ciri utama tipe ini adalah ketidakmampuannya secara terus menerus atau berulang-ulang untuk memenuhi harapan atau tuntutan teman atau sebayanya atau kenalannya. Baik dalam respon emosional, intelektual, sosial, maupun fisik. Penderta sendiri tidak merasakan sebagai bebean karena dianggapnya wajar dan harus diterima sebagaimana adanya. Orang dengan tipe ini biasanya juga empunyai kehidupan yang tak terprogram, tidak mampu melaksanakan tugas, serta tidak mau dipaksa untuk melakukan sesuatu. 21
  22. BAB III PENUTUP Kesimpulan Kepribadian setiap individu berbeda satu sama lain. Untuk mengetahui kepribadian seseorang kita perlu mempelajari struktur kepribadiannya. Ada beberapa hal yang mempengaruhi pembentukan kepribadian yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus. Sehingga terbentuklah beberapa jenis kepribadian unik dari setiap individu. Penggolongan ini ada yang berdasarkan faktor eksternal dan internal. Individu yang tidak dapat menghadapi masalah pribadi dan sosial yang timbul saat ia masih kanak-kanak sampai dewasa dapat menimbulkan gangguan kepribadian. Oleh kerena itu sejak dini kepribadian harus dibentuk dengan baik sehingga tidak mengalami gangguan kepribadian pada masing-masing individu. 22









Minggu, 04 Agustus 2013

Ahli Psikologi ( Sigmund Freud, HUMANISTIK, Wilhelm Wundt, Burrhus Frederic Skinner, Tipologi Spranger, Carl Rogers, and Henry A. Murray )

Ahli Psikologi ( Sigmund Freud, James Lounge, Arthur Combs, Albert Bandura , Wilhelm Wundt, Burrhus Frederic Skinner, Tipologi Spranger, Carl Rogers, and Henry A. Murray )